Sunday, December 24, 2017

Seperti Ikan-ikan di Lautan

Kolam Ikan
Sumber: Dokumentasi Penulis
Beragam lingkungan akan dan telah kita hadapi. Dan beragam pula keadaan yang akan kita temui. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yaitu terwarnai atau mewarnai. Kedua kemungkinan tersebut bisa saja terjadi pada diri kita. Terwarnai, saat kita tidak mampu bertahan, dan mewarnai saat kita mampu bertahan. Apakah ada yang salah jika kita terwarnai? Tidak. Tidak ada yang salah jika kita terwarnai, asalkan terwarnai oleh hal yang baik dan positif. Pun sebaliknya, apakah salah jika kita mewarnai? Sekali lagi, tidak ada yang salah, selagi kita mewarnai dengan hal yang baik dan positif.

Suatu waktu aku menatapi lautan. Memandangi ikan-ikan yang asyik berenang. Beragam jenis ikan yang kulihat. Aku merenung. Dari beberapa ikan yang hidup di lautan, belum pernah kutemui keasinan air laut itu meresap ke tubuh ikan. Saat disemai dari lautan, ikan itu tetap tawar. Ia tidak terpengaruh oleh keasinan air lautan. Bukan hanya keasinan laut yang ia hadapi, melinkan juga gelombang lautan yang silih berganti dan berbeda setiap bulan dan tahunnya.

Keasinan air lautan memang bukan diidentikkan menjadi sebuah keburukan. Hanya saja aku mengambil suatu pembelajaran, mendapatkan sebuah motivasi untuk tegar. "Jika ikan-ikan di lautan saja mendapat ujian gelombang lautan yang sedemikian rupa, bagaimana mana mungkin aku tidak," pikirku.
Selalu ada hal implisit yang kubaca. Dari ciptaanNya yang begitu luas, tak terhingga.

Semoga diri bisa mewarnai dengan kebaikan, kemaslahatan dan ke-positif-an, dan terwarnai kebaikan, kemaslahatan serta ke-positif-an juga. Istajib du'ana Ya Allah. Allahumma istajib.

Anambas, 25122017

Wa ila rabbika farghob
Keep Tawadhu
-Juniar Sinaga-

Tuesday, December 12, 2017

Problem Solver atau Problem Speaker

Berbagai permasalahan akan berdatangan tanpa harus kita minta, tanpa harus kita seru, ia akan datang dengan sendirinya. Hakikatnya, permasalahan adalah pen-dewasa bagi sasarannya. Dan sepemahaman saya, permasalahan bukan untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi. Jika permasalahan menghampiri, kita tidak diminta untuk melarikan diri darinya. Sebab sejauh apapun kita berlari dari masalah, itu tidak akan menghilangkan masalah, namun memperkeruh. Kala permalasahan bertengger, kita diminta untuk mencari sebuah solusi. 

Ada beberapa pilihan yang bisa kita tentukan pada sebuah kondisi, yakni kondisi saat permasalahan itu datang. Ada personal yang lebih tertarik membicarakan masalah itu, bahas sisi ini, sisi itu, namun tak memberikan solusi apapun. Tak berkenan mengambil peran sekecil apapun. Dia hanya berfokus membicarakan tanpa harus memberikan simpulan yang berarti di akhir. 
Pilihan kedua adalah tidak berbicara banyak tentang masalah itu. Tak membuang waktu untuk membahas sisi ini sisi itu, namun berfokus mencari sebuah solusi. 
Pilihan ketiga adalah membiacarakan masalah yang ada. Mencari penyebab masalah tersebut, selanjutnya mencari sebuah solusi atas masalah tersebut. Sehingga dia tidak berfokus hanya sebagai problem speaker, namun juga menjadi problem solver. Dia berupaya mengambil peran dan solusi guna menyelesaikan permalasahan yang ada. 

Sudah menjadi sebuah wacana yang klise, jangan hanya berfokus pada masalah, namun temukan solusi. Dalam konteks ini, yang lebih dekat adalah permasalahan sederhana yang menggerogoti kita saban harinya. Untuk ranah yang sedang kita tekuni saat ini, ini adalah refleksi diri bagi saya pribadi untuk menentukan pilihan selanjutnya. Mau menjadi problem speaker saja atau problem solver saja, atau keduanya. Itulah balik ke diri kita masing-masing. 

"Jika tidak bisa menyelesaikan sebuah masalah,setidaknya jangan memunculkan masalah yang baru"
  (Moh. Nuh) 

Alhamdulillahi 'ala kulli haal
Anambas, 13122017

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-

Wednesday, November 8, 2017

Narasi Malam

Kutatapi layar laptop yang malam ini sedang kurang sehat. Di jeda waktu itu pula kutatapi wajah-wajah rekan se-bait yang telah tertidur pulas. Sedari tadi, mataku pun telah merayu. Ingin menguncup sejenak melepas lelah dari pagi hingga petang tadi. Namun, lembaran-lembaran yang belum juga rampung membayangi. Detik demi detik terasa cepat berlalu. Sementara setiap tugas yang berbaris rapi dalam buku agenda belum juga rampung. Mungkin aku harus membuat perjanjian dengan mataku, bahwa ia tidak bisa meninggalkanku seorang diri.

Kembali kubuka lembaran-lembaran sumbing itu. Aku terhenti dan terus berikhtiar memahami. Sejak kemarin hingga pada penghujung oktober yang semakin dekat, perdamaian dengan waktu dan jasad ini seakan tidak satu frekuensi. Saat mata berhasil dimintai kompromi, justru waktu seakan cepat berlari. Jika sudah begitu, mungkin harus mengatur ulang semuanya.

Langkah ini belum usai. Masih banyak yang harus dirampungkan. Masih banyak yang harus diupayakan, direalisasikan. Biarlah doa dan ikhtiar membersamai diri, ditemani tawakkal yang takkan habis dikikis waktu. Semoga!


23.52 WIB
28102017

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
Juniar Sinaga

Tuesday, October 3, 2017

Membaca Latar dan Pelakonnya

Aku terus belajar membaca latar yang baru, juga pelakon yang bermukim di dalamnya. Sederetan karakter dan dialek yang berbeda belum rampung kupahami. Bukan hanya yang ditemui yang dibaca, bahkan kaki-kaki yang melangkah bersamaan di latar ini pun masih harus kubaca dengan seksama.

Di pintu pagi sering kutemui resah, namun wajahku tak sampai basah. Sebab simpuh di seba'da adzan subuh masih ada untuk penguatan. Pun punggung lantai masih ada untuk tempat bersimpuh. Beragam desah dan gelisah pun tak luput di ruang-ruang perkumpulan para pemilik karakter yang berbeda. Sementara aku hanya terus berpikir sembari memohon kelembutan hati. Apakah mungkin kita terus meng-ego-i, memikirkan kepentingan diri kita sendiri. Lalu setelah itu kita bernyanyi dengan nyaring tanpa memikirkan kepentingan lainnya. Apakah mungkin kita mengingkari, kata-kata kebersamaan sedari awal, lalu kita mementingkan keinginan diri sendiri, meninggalkan yang lainnya tertatih dan merintih. 

Dalam palungan bumi, akan selalu ada keadaan yang meminta kita untuk berusaha memahami, bukan sekedar mengerti, apalagi harus meng-ego-i. Dan dari keadaan itu pulalah kita akan belajar membangun kedewasaan diri dan belajar untuk mencari solusi. 


Candi, Kepulauan Anambas
03 Oktober 2017

Wa ila rabbika farhob
Keep tawadhu
Juniar Sinaga

Thursday, September 7, 2017

Sepasang Senyuman

Malam bukan jenaka, namun ada saja tawa yang terdampar di spasi kata. Bukan sesuatu yang disengaja, namun jemari mengejanya begitu saja. Kami bukan makhluk puitis tuan, hanya saja sedang belajar membaca makna implisit, yang ternyata begitu sulit.

Kata memang bukan senjata. Iya, senjata yang kutahu adalah doa. Namun, mereka bilang senjata penulis adalah kata. Apakah tuan seiya dengan mereka?

Kami terkesan bersinestesia. Renungkan saja, tangan seakan melihat. Padahal, ada sepasang mata yang jernih dicipta untuk mengamati sekeliling kita. Dan mata seakan merasa, padahal jelas indera pengecap, pun jelas telah dicipta. Semisal senyuman yang dibaca, lewat sepasang emoticon biasa. Bukankah ia juga telah dibaca oleh mata? Padahal seharusnya adalah dibaca lisan kita.


07 September 2017
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-







Tuesday, September 5, 2017

HarLah SM-3T, 6 Tahun

Kilas Balik

Sulit untuk memulai cerita ini darimana. Aku mengenalimu sejak masih di titik akhir perampungan tugas akhir. Walaupun belum mengenal dari keseluruhan sisi. Mencari informasi tentangmu terus menerus adalah bentuk keseriusanku untuk menjadi bagian darimu kala itu. Bahkan, rasa segan yang menebal, sedikit kukikis waktu itu agar berani bertanya kepada dosen pembimbing. Bahkan, sempat juga aku meminta petuah sebelum "memilihmu'. 
Aku bak seseorang yang sedang 'jatuh cinta', karena tak ingin melewatkan kabar tentangmu.
Memasuki akhir tahun 2012, aku rampung menyelesaikan satu amanah. Tinggal pengukuhan sebentuk wisuda yang kutunggu, dan selanjutnya akan dilaksanakan di tahun 2013. Di tahun itu pula, kabar tentangmu berhembus ke setiap penjuru. Aku menggebu, tak sabar ingin menjadi bagian dari dirimu. Namun, ada buncah yang sulit untuk ditepis. engkau tahu kenapa? Sebab aku masih harus meminta restu kepada keluargaku. Memilih bersamamu memang hak prerogatifku. Namun memilih tanpa sebuah restu, tak bisa melanjutkannya pada langkah yang lebih jauh. Aku menyeka air mata, meredam sedih lewat isak tangis yang terus tersembunyi. Kupikir, bukan kehadiranmu yang tidak tepat kala itu. Hanya kondisi saja yang sedang kurang kondusif untuk mengizinkanku pergi bersamamu, sebab bukan sehari dua hari, bukan juga dengan 1,5 spasi jaraknya. 'Kegalauan' yang menyatu dengan melankolis hingga akhirnya sempurna menjadi sebuah 'kepasrahan'. 
Perlahan, aku ingin mencoba melupakanmu. Hingga nyaris kupikir, mungkin engkau bukan "jodohku'. Namun tetap saja aku tidak mampu. Roman pelosok negeri telah membayang di pikiranku. Walau hari demi hari aku terus 'bergerak' agar kiranya bayangmu hanyut dalam setiap manuver yang belum menepi. Di jeda 'kegundahan' yang belum luput, dengan semangat yang tersisa, berulang kali aku melobi keluarga. Terkadang hujanku lebih awal turun sebelum tendensi landing.
'Biarlah situasi kondusif dulu,' begitu rangkuman yang kudapatkan. 
Menyingkat eksposisi tentang spasi demi spasi untuk bisa membersamaimu, akhirnya keluarga merestui. Selembar kertas berisi segala persyaratan diberikan padaku. engkau tahu, tumpah hujanku seketika. Rasa bercampur, kurasakan waktu itu. Kubaca prosedur yang tertera dalam lembaran itu, agar kiranya tahu paragraf langkah harus dimulai dari arah mana. Semuanya aku rampungkan, hingga akhirnya September 2013 aku menjadi bagian dari dirimu. Selalu saja aku ingin bercerita tentangmu, bahkan takkan habis hingga saat aku menuliskan ini. 

Setelah kepulanganku dari latar yang telah memberiku banyak makna, untuk pertama kalinya aku menuliskan tentangmu di blog dengan paparan sederhana namun cukup panjang. mengabdi-untuk-negeriku-bersama-sm-3t. Itu hanya sebentuk ungkapan rasa 'cinta' yang sederhana dariku. Sebab semua potret pelosok yang kuabadikan  masih tersimpan di ruang data, dan tak banyak yang kusuguhkan di dunia maya.
Dalam setiap pertambahan usiamu, selalu saja ada ide-ide 'konvensional' yang bergelantungan di ranting-ranting pikiranku. Di pertambahan usiamu keempat, aku berada pada kondisi 'melemah' baik fisik maupun pikiran. Berjuang dalam tahap semi akhir yang juga menjadi bait kebersamaan denganmu. Pada situasi itu pula, aku melukis ucapan sederhana untukmu di sela-sela kondisi 'tertatihku'. 

Di sela-sela kesibukan PPG tahun 2015
Pun selanjutnya, pada pertambahan usiamu kelima tahun, bersama MSI Riau merealisasi rencana kepedulian sebentuk rupa berbagi dengan sederhana. Bahkan aku terkadang berpikir bahwa perealisasian itu bukan sebuah pencapaian  yang bermakna besar. Namun, sadarku bahwa seribu langkah berawal dari satu dua langkah kecil, hingga aku terus membangun pikiran untuk bergerak walau lewat gerakan kecil. Seperti sebuah hadits Rasulullah Shallahu'alai wassalam "Amalan yang dicintai Allah adalah amalan yang rutin walaupun sedikit (HR.Muslim). 

Spanduk manual ala MSI Riau di HarLah SM-3T kelima
Aku adalah musuh untuk diriku sendiri. Sehingga saat ekspektasi terlalu tinggi, namun tanpa ikhtiar dan realisasi, bagai mimpi buruk yang menggerayungi. Dari hal itu pula aku belajar untuk berupaya bergerak sesuai dengan kapasitas yang kusanggupi, walau hanya sebentuk narasi dan deskripsi. Suatu hari, seorang senior menyampaikan sebuah nasihat saat aku meminta saran dan berbagai solusi. "Jangan menunggu ahli, baru mau berkontribusi," sahut beliau. Aku hanya mengangguk-angguk sembari meresapi isi nasihat itu. Ditambah lagi dengan santapan yang kudapatkan lewat bacaan, "Di atas langit masih ada langit. Di bawah bumi masih ada bumi. Berbagilah sesuai dengan kemampuan yang kita bisa". Makna yang disampaikan oleh penyampai nasihat ini yaitu bahwa orang yang memberi, orang yang berbagi, sejatinya bukan karena mereka memiliki hal yang berlebih atas apa yang dibagikan. Dan jangan menunggu berlebih dulu. Dalam setiap kelebihan yang dimiliki seseorang, masih ada yang lain yang juga memiliki kelebihan dari yang dimilikinya. Sebaliknya, dalam sebuah kekurangan yang dimiliki seseorang, masih ada juga yang lebih kekurangan darinya. Sehingga, berbagi jangan menunggu berlebih. Kira-kira begitu maknanya.
Banyak makna hidup dan kesempatan yang kudapatkan. Sehabis kepulangan dari penempatan, yang waktu itu menjadi peserta yang lebih awal dipulangkan sebab kondisi yang SANGAT tidak kondusif. Sebab nyawa telah menjadi taruhannya. Di tahun 2014, terbuka sebuah kesempatan untuk mengikuti sebuah lomba yang tema-nya masih dalam jalurku. Dengan sebuah keyakinan dan keberanian, aku mencoba mengirimkan foto siswa yang kuabadikan di sela-sela mengajar. Dan sore hari pada jam dan waktu yang tak kuingat lagi, rasanya bagai 'dilamar tiba-tiba'. Kaget, senang, namun tetap berusaha tenang waktu itu. Foto siswa yang kukirimkan membawaku pada juara 2. Aku senang waktu itu, namun sekedarnya saja, tak mau berlebihan. Dan kesempatan itu membuka beberapa kesempatan lainnya. Sebab lewat lomba itu, aku mendapatkan kesempatan dan diundang liputan 6 untuk bisa turut serta dalam silaturahmi SM-3T Se-Indonesia, dan bertemu pak menteri pendidikan Bapak Muhammad Noh. Salah satu sosok yang juga aku kagumi. 
Sebuah kesempatan membuka kesempatan lainnya
Banyak hal yang belum kuuraikan dalam tulisan ini. Sangat banyak dan teramat panjang. Bahkan jika mengikuti pikiran dan jemari, ingin rasanya aku tuliskan semua disini. Namun, biarlah paragraf selanjutnya kutitip dan kusimpan menjadi kenangan yang tiada tepinya, kecuali jika Allah telah meminta pulang. Maka kenangan itu pun akan kubawa juga.


Kontemplasi Kontribusi
Tentang kontribusi, rasanya aku masih jauh dari ke-maksimal-an dalam berkontribusi. Aku bahkan mampu menghitung kontribusi yang telah kulakukan, masih hitungan jari. Sementara engkau, usiamu masih sangat muda, masih umur anak SD yang jika engkau berwujud manusia barangkali masih menduduki bangku kelas 1 SD. Namun kontribusimu, Allah yang lebih mengetahui. Usia 6 tahun, engkau mempu memberikan banyak makna, banyak maslahat. Padahal jika bertumpu pada usiamu, harusnya engkau masih ditopang, diarahkan. Akan tetapi, ke-terbalik-an yang kulihat. Justru di usia yang sebegitu dini, engkau telah mendewasakan diri. Aku salut! Ajarkan aku untuk terus bergerak, berbuat, berbagi dan menginspirasi tanpa henti. Ajarkan aku untuk terus ikhlas, menghadirkan empati yang tiada tepi. Barakallah SM-3T Keenam tahun. Pertambahan usia ini adalah amanah. Sebab dengan bertambahnya usia ini, berarti Allah memberimu kesempatan untuk berbuat lebih banyak untuk orang banyak. Amanah untuk menjadi bagian dari pemerataan sudut-sudut negeri yang belum merata. Semoga pikiran ini, kaki ini, tangan ini, dan seluruh yang telah Allah berikan menjadi bagian yang turut membersamaimu berjuang ke sudut sana. InsyaAllah wa biidznillah.

Salam Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia

Pekanbaru, 05 September 2017
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu

Juniar Sinaga
SM-3T Angkatan III









Saturday, September 2, 2017

Puisi



Aroma syahdu rebak di teras pagi. Menyalakan raga yang padam dalam malam. Mekar sepasang tunas yang picing. Dibasuh teduh berlanjut pada simpuh di geladak yang menggigil. Doa memecah bening yang bersembunyi di sudut sayu.

Pekanbaru, 11 Dzulhijjah 1438 H/2 September 2017

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-

Papan tulis pandemi?

Saya lupa tahun berapa persisnya menempa papan tulis kecil ini. Namun yang jelas papan tulis kecil ini dibuat dengan jalan pikiran agar pas ...