Showing posts with label GGD. Show all posts
Showing posts with label GGD. Show all posts

Sunday, August 2, 2020

Papan tulis pandemi?




Saya lupa tahun berapa persisnya menempa papan tulis kecil ini. Namun yang jelas papan tulis kecil ini dibuat dengan jalan pikiran agar pas pergi 'melapak', bisa dimanfaatkan untuk mengajar anak-anak. Jadi pas sebagian anak-anak sedang membaca buku, sebagiannya lagi belajar, entah itu berhitung ataupun menuliskan huruf di papan tulis itu.

'Melapak' bukan tugas utama saya. Dilakoni di luar tugas wajib yang dilakukan sehari-hari. Namun kegiatan itu menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan anak-anak dengan buku. Jika saya ditanya, sudahkah tampak manfaatnya? Jawabannya belum. Karena zaman sekarang gawai memang lebih menarik dibandingkan buku. Akan tetapi ini bukan generalisasi. Ada orang yang candu dengan buku, namun bukan berarti tak menggunakan gawai. Ia masih dapat mengontrol diri dalam menggunakan gawai. Nah, kalau anak-anak yang biasa datang di lapak yang pernah dilakukan, itu didominasi jenjang sekolah dasar. Itulah mungkin salah satu alasan mengapa dampaknya belum terlihat begitu tampak. Pengontrolan dalam menggunakan gawai belum maksimal bagi beberapa yang memilikinya.
Namun dengan upaya di atas, setidaknya tidak 'alergi' dengan buku cerita. Jadi, kehadiran papan tulis ini awalnya dibuat memang ingin membersamai kegiatan melapak. Jadi yang mau membaca tetap membaca, yang mau belajar pun lanjut.

Realitanya, papan tulis ini malah dimanfaatkan pada masa pandemi. Digunakan saat anak-anak harus belajar di rumah. Apakah membantu? Iya. Terkadang, kita mencari sesuatu, bukan berarti saat itu juga sesuatu itu dibutuhkan. Namun beberapa waktu setelahnya. Misalnya saat dulu kita kuliah. Ilmu-ilmu yang kita pelajari, mengikuti berbagai kegiatan, kita ikut tholabul ilmu, semuanya bukan saat itu kita perlukan. Namun beberapa masa sebakdanya. Tentu yang saya maksud disini adalah yang berkaitan dengan kepositifan dan kemaslahatan.

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-

Ibu beranak (melahirkan) ya?

Kegiatan Belajar di rumah masa pandemi covid-19 

    Pandemi covid-19 yang belum berakhir mengharuskan anak-anak masih harus belajar di rumah. Belum diperbolehkan untuk hadir di sekolah karena surat edaran menyampaikan demikian.
    Salah satu yang membuat dilema adalah jika harus memberikan tugas secara langsung sementara mereka baru naik kelas. Maka, mau tak mau harus membuat pertemuan dulu sebelum penugasan. Tentu dilakukan setelah memberikan surat pemberitahuan ke orang tua dan dikomunikasikan dengan Kepala Sekolah dan Guru. Jumlah yang lebih ramai dari sebelumnya mengharuskan mereka dibagi menjadi beberapa kelompok. Jadwal yang diselang seling menyesuaikan kondisi fisik juga. Hari ini adalah jadwal kelompok kedua. Pengalaman dari kelompok pertama, tak pernah pas jumlahnya, pasti berlebih. Karena ada aja temannya yang ikut, padahal bukan jadwalnya. Saat temannya belajar, dia pun disuruh baca buku cerita aja, daripada harus disuruh pulang sendirian kan.
.
.
Di tengah waktu belajar, seorang anak bertanya "Bu, esok kita raya ya?"
Saya pun jawab singkat "ya".
Anak yang lain pun bertanya lagi "Ibu beranak ya?" Tadinya kukira dia bertanya "Ibu berangkat ya?"
Ternyata aku salah dengar. Untuk memastikan sebelum menjawab, aku pun bertanya ulang. Ternyata dia bertanya "Ibu beranak ya?"
Aku tersenyum sembari bertanya ulang "siapa yang bilang?"
"Tadi kami nampak perut Ibu besar," jawabnya.
Barangkali mereka bertanya karena di pertengahan waktu belajar itu aku mengelus-elus perut. Maklum, si dedek di dalam asyik bergerak 😅. Supaya si dedek agak tenang, maka dielus-elus. Elusan itu menghadirkan tanya dari anak-anak 😁😅.
.
.
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-

Friday, February 2, 2018

Gelak Memori (Part 2)

Juniar Sinaga
Masih tentang gelak memori saat pelepasan GGD di Jakarta. Malamnya, aku tidak bisa turut serta mengikuti kegiatan mengenai teknis keberangkatan. Alasannya bukan karena begitu sibuk, namun karena sebuah amanah. 
Pun, aku tak pernah menduga bahwa akan kutemukan gelak tawa non konyol, kukira. Berlanjut pada perbincangan teman satu bilik. 
"Kak, besok Nur masuk rombongan bus nomor berapa?"
"Si kakak menanyakan nomor urutku. Lantas dengan singkat ia menyebutkan nomor busnya".
Jadi ceritanya, setiap bus itu telah ditentukan koordinatornya. Dan setiap koordinator bertugas untuk mengecek anggotanya masing-masing. Aku sendiri begitu optimis dengan penjabaran kakak satu bilik.
Hingga akhirnya, sampailah pada keesokan harinya. Aku masuk ke dalam bus sesuai dengan nomor rombongan yang disebut si kakak. Aku santai saja dalam bus ibu. Kotak kue sudah tersedia di atas kursi. Tinggal makan, kalau memang ingin.
GGD menuju gedung Kemdikbud
Sumber: Dokumentasi penulis
Perlahan tapi pasti, sang koordinator pun mulai mengabsen anggotanya. Satu per satu dipanggil. Tapi kok namaku tak dipanggil ya? Qodarallah, waktu itu aku memang mengenal koordinatornya. Namun kupikir itu tak memengaruhi pengabsenan. Lantas aku bertanya pada teman yang sama sekali belum kukenal, namun posisinya tepat di samping tempaku duduk. 
"Mba, kok nama saya tak dipanggil ya?"
"Mungkin karena koordinatornya kenal mba, makanya sudah langsung diceklis".
"Apa iya ya begitu," pikirku. 
Selang beberapa menit, hapeku berdering. Dari seberang terdengar sahutan "Nur, kamu dimana? dari tadi namamu dipanggilin," ujarnya. 
Waduh! Aku sudah terbayang bakalan ditertawakan yang lain. Mau sembunyi dimana ini?
Aku bergegas ingin turun. Sang koordinator memanggilku " mau kemana kak Jun?".
"Saya salah bus Bang," jawabku. 
Saat posisiku ingin melangkah kelaur, si mbak yang berada di sampingku masih sempat berujar " Mba, kuenya ini tak dibawa?". Tak sanggup menahan ketawa mengingat momen ini. Serius.
"Tidak usah turun kak Jun. Tak apa-apa. Ini sudah mau berangkat kok," ucap sang koordinator.

***
Aku masih merasa malu. Saat tiba di gedung Graha Kemdikbud, aku "diomelin" koordinator yang sebenarnya. Aku hanya tertawa. Namanya juga ketidak sengajaan. Sudah salah info dari awal. ^_^.

Aku melanjutkan langkah, menemui si kakak satu bilik.
"Kak, Nur salah bus e," ucapku sembari bersembunyi di punggungnya. 
"Nur malu," ucapku sembari tertawa.
"Maaf Nur, kakak salah arahan," ujarnya sembari terkekeh.
Ah! ada-ada saja hal konyol yang ditemui.
***
Saat pemberangkatan menuju acara, sepasang mataku sempat tertuju sekilas pada perpustakaan kemdikbud.
"Harus mampir nanti," ujarku dalam hati.
Kegiatan pelepasan telah berakhir. Aku berpisah total dari teman-teman sebilik, semuanya. 
Usai bercakap-cakap dengan salah seorang Bapak yang bekerja di kemdikbud, aku berpamitan.
Perpustakaan Kemdikbud
Sumber: Dokumentasi penulis
Dengan modal tekad dan nekat, aku meraba-raba jalan menuju perpustakaan kemdikbud. Entah kenapa aku tak peduli tanpa teman saat itu. Aku mengamati ruangan perpustakaan itu. Di dalamnya terpajang foto-foto pemenang fotografi yang diadakan kemdikbud.
"Ah, teringin rasanya karyaku juga bisa terpajang disini," aku menghela nafas. 
Aku meminta bantuan pada seorang wanita yang saat itu juga sedang berkunjung.
"Ibu, bisa minta tolong? Mau foto disini," ucapku dengna lembut.
"Nanti gantian ya. Saya juga ingin foto," ujarnya sembari tersenyum.
Rencana telah kesampaian. Sekembalinya dari perpustakaan, aku sedikit ragu arah pulang. Aku tidak takut, sebab ada petugas yang bisa ditanya. Hingga pada detik yang tak lama, kakak se-Indonesia datang dari arah gedung kemdikbud. Ia tampak mengulum senyum. Aku tak tahu apakah tersenyum karena melihatku yang tampak seolah "linglung" atau entahlah.
Dan lagi, aku ketinggalan bus. Hanya tinggal satu rombongan lagi yang tersisa. Setia menunggu peserta yang tertinggal. Aku masuk dalam deretan itu. Kekonyolan apa lagi ini?
Aku senyam-senyum mengingat kejadian-kejadian unik yang kutemui dari pagi hingga siang. Pagi, salah bus, siang ketinggalan bus. Lagi, lagi aku tak dapat menahan tawa saat menuliskan ini.

Selalu saja ada hal lucu yang kita sebagai pelakonnya. Semuanya terjadi tanpa kita persiapkan skenarionya, namun Allah sudah mengetahui sebelumnya. Gelak memori, lestari di palung hati.

03 Februari 2018
Wa ila rabbika farghob
Keep Tawadhu
-Juniar Sinaga-

Friday, January 26, 2018

GELAK MEMORI (Part 1)

Kejutan yang tidak mengejutkan
      
    Ada beragam momen yang acapkali sulit untuk dimusnahkan. Wajar, sebab momen positif memang tidak semestinya dimusnahkan. Seperti momen saat aku dan ribuan rekan-rekan se-Indonesia mendapat kesempatan untuk turut serta menyaksikan pelepasan Guru Garis Depan 2016 (GGD 2016). 
     Jika menarik ulur cerita, aku bahkan seakan tak percaya akan kesempatan ini. Namun begitulah indahnya rencana Allah, selalu saja menakjubkan. Saat itu aku masih sibuk mengemas berkas-berkas rekan-rekan lainnya, dan merampungkan amanah yang diberikan yakni menghubungi rekan-rekan yang belum rampung dalam pemberkasan. Di spasi waktu kusempatkan juga untuk mengamati riuh penantian di beberapa grup yang aku sendiri pun berada di dalamnya, bahkan juga sebagai adminnya. Aku sangat menikmati amanah itu. Yah, walaupun memang tak selalu menyemai dukungan, sebab manusia memang tak selamanya akan memihak pada kita. Apalagi waktu itu kondisinya sudah berada pada penantian panjang. Aku tak mampu menyebutkan itu pengujian kesabaran di tingkat berapa.
      Kesibukan mengurusi berkas dan mengurusi keperluan diri membuatku larut. Hingga suatu ketika muncul dokumen dalam bentuk PDF di grup. Lalu yang memposting mengucapkan kata-kata demikian "Selamat untuk teman-teman yang ikut ke Jakarta untuk Pelepasan GGD". Aku biasa saja responnya waktu itu. Kubiarkan dokumen itu di grup, belum kubuka, belum kubaca sama sekali. Selanjutnya bertambahlah ucapan selamat di grup. "Selamat untuk teman-teman yang ikut". Pernyataan itu kembali muncul, namun dengan menyebutkan beberapa nama dari Riau yang mendapat kesempatan. Dan dalam nama-nama yang mereka sebutkan termasuk namaku. Pelan dan tanpa tergopoh-gopoh aku membuka file itu. Bertumpuk nama di dalamnya, ada yang kukenal dan lebih banyak yang tak kukenali. Aku mencoba mencari namaku, mana tahu teman-temanku keliru. Nama yang tertulis namaku, namun sesungguhnya bukan diriku. Bisa jadi kan ya.
      Setelah kubaca, nama dan penempatan kabupatennya, benarlah adanya bahwa itu adalah aku, Juniar Sinaga. Responku tak berlebihan, sebatas lafaz syukur atas kesempatan yang ada. Sebab jauh sebelumnya, untuk bisa ikut dalam pelepasan ke Jakarta bukanlah ekspektasi terbesarku. Namun jika memang Allah berikan kesempatan, tentu tidak akan menolak bukan? Indah ya rencana Allah.

Fa inna ma'al usri usra
      Fix, aku ikut ke Jakarta untuk perwakilan GGD Anambas dalam pelepasan secara simbolis GGD 2016. Saat yang lain sibuk menanyakan apa-apa saja yang akan dibawa, aku justru kebingungan memikirkan tiket. Kondisi keuangan yang saat itu sedang minim tak memungkinkan untuk membooking tiket dalam waktu dekat. Sementara harga tiket biasanya tahu kan ya, semakin dekat semakin mahal. Ada beberapa kemungkinan yang harus dilakukan. Pertama, mengutang uang teman, lalu membayarkannya setelah nanti penggantian uang transportasi. Kedua, meminjam ke orang tua. Keduanya adalah pilihan yang amat berat. Meminjam uang dalam nominal jutaan, membuat badan merinding. Sebab belum pernah melakukan sebelumnya.
    Aku percaya bahwa rasa syukur senantiasa menghadirkan solusi. Allah tidak akan mungkin memberi kesempatan ini, lalu membiarkan kebingungan untuk mencari tiket menuju lokasi. Tenang, tenang dan tenang sembari mencari solusi. Perlahan aku mulai menanyakan ke teman-teman yang lain. Sementara ke keluarga sendiri aku tak menyampaikan sedikit pun hal mengenai tiket yang belum ada.Tentu alasannya sederhana, tak ingin merepotkan dan membebani. Tanggapan dari teman yang lain, "saya juga sedang minim uang bu Nur. Saya juga minjam jadinya". Begitulah jawaban yang kudapatkan. 
         Aku lupa pastinya, entah siang atau malam waktu itu. Aku mendapatkan whatsapp dari partner jauh. Motivator "pembunuh" yang beberapa kali mencoba membunuh ke-pesimis-anku. Beliau menanyakan tentang tiket, apakah sudah ada atau belum. Dalam hati menjawab "Belum". Balasanku menghadirkan solusi dari beliau. Mengarahkanku pada seseorang yang juga belum kukenali. Lika liku komunikasi pada orang yang pertama kali dijapri lantas memanggilku "pak". Aku diam dan tak membalas panggilan itu di saat yang bersamaan. Menenangkan diri lalu membalas "saya perempuan, Pak". Aku tidak tahu bagaimana ekspresi penerima sesaat setelah membaca klarifikasi itu. Sementara, hal yang kutanyakan padanya pun tak ada lagi. Habis!
        Selanjutnya apa yang kurasakan setelah itu? Bingung? Iya. Panik? Tentu tidak. Sebab ikhtiarku belum berakhir. Aku mencoba menghubungi partner bin kakak. Berlanjut pada pencarian solusi hingga berakhir pada "adanya" hasil akhir. Alhamdulillah. Ekspresiku setelah mendapatkan tiket, masih sama seperti sebelumnya. Datar dan melafazkan syukur untuk kesekian kalinya.

Keberangkatan dan Berpamitan
        Kegiatan kali ini sekaligus sebagai langkah awal menuju tempat penugasan. Walaupun kala itu belum ada informasi pemanggilan dari penempatan. Pemanggilan atau belum, tetap berangkat. Ini bukan pernyataan kepasrahan. Bukan juga nekat, melainkan satu pilihan yang harus dijalankan tanpa memikirkan konsekuensi nantinya. Hanya meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. InsyaAllah.
     Aku lupa tepatnya jam berapa sampai di lokasi, Jakarta. Setelah 'bersantai' beberapa jam di bandara, akhirnya kaki sampai juga di peraduan. Check in bersama rekan yang sama-sama berangkat dari satu tempat, hingga akhirnya berada pada satu bilik yang sama. Mengamati sudut-sudut latar, tak banyak yang kukenali. Suasana baru berubah saat kegiatan pembukaan berlangsung. Satu per satu bermunculan wajah-wajah lama di latar yang baru. Satu per satu bermunculan pula wajah yang sebelumnya belum pernah bersua namun sudah saling berkoordinasi.  Rasanya nano-nano. Saya sangat menikmati setiap kegiatan, tak terasa letih. Sementara bayangan penempatan tak kupikirkan. Lupakan sejenak.
Pemberangkatan Simbolis GGD 2016
Sumber: Dokumentasi penulis


Bersua dengan Pemilik Darah Basecare
     Tak banyak waktu bersama mereka. Sebab kegiatan yang terus sambung menyambung dan atas amanah yang terus bergulir. Raga berada di tempat ini namun jemari tetap tak henti mengabarkan di grup. Meminimalisir prasangka dan rasa resah dari jauh. Pertemuan dengan mereka pun selang seling. Entah itu saat sarapan pagi, juga di sela-sela waktu istirahat dalam kegiatan di ruangan. Puncak pertemuan sekaligus menjadi perpisahannya adalah setelah penutupan kegiatan. Berupaya menahan rasa segan dan malu sekedar ingin berfoto bersama. Kapan lagi bisa bertemu dan berkumpul dengan mereka jika tidak sekarang? Sementara perjumpaan untuk saling memotivasi menganyam cerita belum bisa dipastikan akan ada, sebab usia tetap menjadi rahasiaNya.

Bersama Masyarakat SM-3T Indonesia
Sumber: Dokumentasi penulis
Perjumpaan pertama, yang semoga bukan terakhir. Sebab masih banyak hal yang ingin disemai dari mereka. Tentang kesenyapan, tentang suluh dan segenap cerita lainnya. 
Kalian adalah aksara, yang telah menjadi bagian dari setiap anyamanku. Kalian adalah rasa, yang bisa beragam makna. Selamat menabung pahala di sudut-sudut negeri Indonesia. Salamku untuk anak-anak bangsa disana, semoga bersua di lain masa. InsyaAllah.

Anambas, 27 Januari 2018
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga

Papan tulis pandemi?

Saya lupa tahun berapa persisnya menempa papan tulis kecil ini. Namun yang jelas papan tulis kecil ini dibuat dengan jalan pikiran agar pas ...