Wednesday, August 30, 2017

Penantian berakhir Penipuan

Belakangan ini, setiap kali membuka channel televisi, berita tentang penipuan berserakan di layar kaca. Fokus berita yang ingin tuliskan yaitu penipuan terhadap masyarakat yang sudah lelah dan bahasa lebaynya sampai tertatih untuk menabung agar bisa sampai menuju Baitullah. Namun, sayang sungguh disayangkan, uang mereka kini hilang tak berbayang. 

Saya membaca raut kecewa di wajah mereka dan penuh harap uang kembali. Sebagian lagi memiliki harapan yang berbeda, kalau sekiranya uang tidak kembali pun, setidaknya mereka tetap diberangkatkan ke tanah suci. Dalam kondisi mereka yang kehilangan uang yang sudah ditabung sekian lama, dengan kasus seperti ini mereka mau tidak mau harus membayar pengacara lagi untuk mendampingi mereka untuk menyelesaikan kasusnya. Berlipatlah pengeluaran mereka. Saya bahkan tak berani ber-andai jika saya di posisi mereka. Karena saya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya.

Hikmah yang saya ambil dari kasus ini adalah agar lebih berhati-hati. Apalagi ini urusannya untuk ibadah. Mencari tempat yang aman dan terpercaya barangkali menjadi PR untuk selanjutnya. Semoga kasus ini mampu membongkar kasus-kasus sama yang mungkin sudah mengendap sejak lama. Sehingga ke depannya tidak terjadi kasus yang sama.


Kamis, 09 Dzulhijjah 1438 H/31 Agustus 2017

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
Juniar Sinaga

Tentang Niat dan Sebuah Proses

BEBERAPA hari yang lalu, seorang ibu bertanya pada saya. 
"Nur berapa lama menyelesaikan buku MCDP itu?"
Saya tersenyum mendengar pertanyaan beliau. "Nur mulai meniatkan menulisnya sejak 2013 bu. Tapi selesainya baru tahun 2017," aku merasa malu menceritakannya. 
"Saya sudah pernah menulis. sudah siap beberapa halaman tapi sampai sekarang belum jadi juga," ujar beliau sembari melemparkan senyum. Saya pun, hanya bisa tersenyum. Tak mampu memberikan eksposisi.

Saya memang memulai membuat kerangka buku MCDP itu baru di bulan September 2013. Bertepatan dengan bulan keberangkatan menuju lokasi pengabdian. Namun, kalau niat dan keinginan memiliki karya solo, sudah sejak lama. Dan bahkan point itu selalu saya masukkan dalam daftar capaian pada setiap penghujung tahun. Biasanya saya menuliskan resolusi untuk setiap tahunnya. Walaupun terkadang saya tidak begitu peduli apakah akan tercapai atau tidak nantinya semua resolusi itu. "Rencana yang belum tercapai saya pikir masih lebih baik daripada tidak memiliki rencana apapun sebelumnya".

Buku Gurunya Manusia yang ditulis pak Munif Chatib menjadi salah satu referensi saya saat menulis buku MCDP itu. Bagaimana memetik momen demi momen saat bersama anak-anak. Sementara untuk menambah motivasi saat di penempatan, saya sempat juga membaca bukunya Butet Manurung, yaitu Sokola Rimba. Saat itu saya pinjam buku teman, karena belum memiliki bukunya. Intinya membaca buku-buku yang memiliki tema yang sama dengan buku yang hendak saya tulis. Yah, walaupun hasilnya belum sebagus karya mereka. Sebab semuanya berproses.

SEJUJURNYA, saya berupaya untuk menghasilkan karya bukan berniat untuk menuai sanjungan dan materi. Pujian dan materi bukanlah orientasi pokok saya dalam berkarya. Saya pikir, dua pokok itu adalah bonus yang didapatkan oleh seseorang yang menghasilkan karya. Berkarya itu sebenarnya, saya sedang dan terus menantang diri bahwa saya harus dan bisa. Dengan melibatkan niat, proses serta kemauan. Dan menggali potensi yang positif, saya pikir itu juga merupakan bagian dari mensyukuri nikmat dari Allah. Saya teringat quotes seorang penulis yang karya sudah bertumpuk tersebar di toko buku.

"Jadilah yang terbaik semampumu. Bukan untuk membuat orang lain tertarik padamu. Tapi demi rasa syukur padaNya yang telah menciptakanmu dengan sempurna" (Ahmad Rif'ai Rif'an).

Ketika membaca quotes ini, maka tersirat di dalamnya tentang sebuah niat. Dan demikian yang terus saya upayakan. Bagaimana untuk terus memperbaiki dan meluruskan niat agar jangan sampai berorientasi pada hal-hal yang bersifat duniawi. Sebab saya sangat yakin dan percaya bahwa niat itu 100% berpengaruh pada ada yang akan kita lakukan. Untuk merealisasikan dan mewujudkan rencana yang telah diniatkan tadi, masih dibutuhkan sebuah proses. Proses itu beragam jangka waktunya. Bisa sehari, sebulan, setahun dan bahkan bertahun-tahun. Jangka waktu yang dibutuhkan untuk menyeduh secangkir kopi yang bahannya telah tersedia tentu berbeda dengan waktu untuk mendapatkan nasi yang bahan bakunya  belum tersedia sama sekali. Demikianlah dalam berkarya, berproses, dan butuh waktu.

Sabar dalam berproses, apalagi dalam merealisasikan dan mewujudkan segala rencana. Nasihat itu masih saya pegang hingga saat ini. Dan yang penting, memperbaiki niat dan melibatkan Allah Ta'ala, agar berkah. 

Penghujung Agustus
08 Dzulhijjah 1438 H/30 Agustus 2017

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
Juniar Sinaga



Thursday, August 24, 2017

Muhasabah

Tentang Ujian

"Mukmin itu, jika diberi ujian dia bersabar. Dan jika diberi nikmat dia bersyukur"
Menghadapi sebuah ujian dan musibah itu bukan perkara mudah. Namun, mengapa kita masih sanggup tersenyum, mampu tertawa walau terkadang sedang berada pada kondisi ini? Jawabannya yaitu karena Allah. Jika permasalahan yang silih berganti adalah akhir dari sebuah kehidupan, barangkali kita akan menjadi salah satu bagian dari golongan itu. Akan tetapi, oleh kekuatan iman dan atas sebuah keyakinan bahwa semuanya takkan melampaui batas kemampuan, maka kita masih terus mengikhtiarkan untuk kuat dan bertahan. 


Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat kebajikan (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya (QS. Al-Baqarah:286)

Ayat sempurna dari Ar-Rahman yang menjadi sebuah referensi bagi kita untuk terus yakin dalam menghadapi berbagai hal yang menghampiri, baik itu musibah ataupun nikmat. Sebab, baik musibah dan nikmat, keduanya merupakan ujian yang bisa menghantarkan kita kepada keburukan atau sebaliknya yakni kepada kebaikan. Saat musibah yang datang, menjadi bagian muhasabah, maka akan bertambah jarak kedekatan kita pada Allah. Sebaliknya, nikmat yang datang pun bisa men-jarak-kan kita dengan Allah. Karena kita seolah berpikir bahwa segala nikmat yang didapatkan, semuanya atas kerja keras dan ikhtiar kita semata. Pikiran seperti ini akan menghantarkan kepada kekufuran, dan ini hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang ingkar. 

Mampu bertahan menghadapi segala perkara, bukanlah karena kekuatan diri kita. Bukan juga sebab kehebatan yang kita miliki, melainkan karena Allah. Maka bersyukurnya kita yaitu ketika musibah demi musibah yang ada, memperdekat jarak kita dengan Allah. Demikian juga dengan nikmat yang kita terima, ianya pun membuat keimanan kita semakin kuat.

Sebuah keyakinan yang terus kita tanamkan yaitu bahwa segala sesuatu yang terjadi biidznillah. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Maka saat sesuatu hal terjadi, tidak ada kata 'kebetulan'. 
Qoddarullah wama syafa'ala


Jum'at, 2 Zulhijjah 1438 H/25 Agustus 2017

Wa ila rabbika farghob
Rabbana 'alaika tawakkalna
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-



Monday, August 21, 2017

Catatan

Penantian adalah Ujian: Nasihat untuk diri

Riuh tawa para jamaah menambah keramaian pagi itu. Saat sesi tanya jawab berlangsung, pemateri membacakan sebuah pertanyaan yang diketik rapi dalam kertas putih. 
"Ustad, saya ingin menikah. Selama 4 tahun saya menunggu seorang perempuan tanpa komunikasi. Dan setelah menyampaikan ke orang tua, mereka telah setuju. Namun ternyata, sebelum saya melamarnya, saya mendapatkan kabar kalau dia telah menerima pinangan dari seorang laki-laki. Berikan saya nasihat ustad, agar saya bisa melupakannya". 
Saat riuh masih belum sirna, terdengar suara para perempuan yang duduk di sampingku. "Wah,kasihan dia ya". "dia menunggu, ternyata mau melamar, ditikung". "dia sih salah, menunggu tidak memberitahu sama sekali. Mungkin perempuan itu memang tidak tahu sama sekali kalau ada yang menungguinya," Itu beberapa respon mereka. Sementara aku hanya terdiam dan menyimak.

Pemateri tidak memberikan jawaban secara langsung. Namun memberikan sebuah analogi lewat kisah Nabi Ayub yang diuji dengan penyakit dalam kurun waktu yang sangat lama. Selama 20 tahun beliau diuji dengan penyakit. Ditambah lagi dengan ujian lewat kematian anak-anaknya. Semua ujian itu beliau jalani tanpa mengeluh. Pemateri memaparkan kisahnya dengan begitu indah. Aku menyimak sambil sesekali mengernyitkan kening. "Beliau diuji selama 20 tahun. Lah, anda masih diuji selama 4 tahun menunggu. Jangan putus asa. Lakukan aktivitas yang positif," ujar beliau.

"Jauh sebelum kita lahir, semua telah ditetapkan oleh Allah, termasuk perkara jodoh. Namun jodoh itu bisa kita ikhtiarkan dengan cara yang Allah ridhoi," pemaparan beliau semakin lama semakin teduh.  Anda menunggunya selama 4 tahun, tanpa kabar dan informasi sama sekali, itu bukan salahnya dia. Tapi sekarang, bukan itu yang harus dipikirkan. Jangan karena itu anda jadi tak bergerak. Lakukan terus ikhtiar dan perbaikan diri. InsyaAllah nanti Allah hadirkan yang lebih baik untuk anda. Beliau memaparkan begitu detail.

Seperti sebuah renungan pagi itu. Iya, penantian itu adalah sebuah ujian, yang dalam konteks ini adalah jodoh. Bisa jadi Allah belum menghadirkan jodoh kita dikarenakan kita belum siap untuk itu. Bisa jadi kita sudah merasa siap dari segi penilaian kita pribadi, namun belum tentu menurut Allah. Allah akan mengabulkan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Teruslah bersabar dalam penantian karena Allah.
Dengan berupaya melakukan hal-hal positif. Ahmad rif'ai rif'an menyampaikan dalam sebuah bukunya, bahwa sebaik-baik penantian adalah penantian yang produktif, diantaranya memperbaiki diri, menggali potensi, dan terus mendekatkan diri pada Allah. 

Semoga aku, kamu, dan kita semua Allah istiqomahkan dalam penantian indah menuju penyempurnaan itu, kelak. 

Rabbana 'alaika tawakkalna
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-

Friday, August 18, 2017

Catatan

Me(nanti) Untuk Pergi

Sederetan tanya yang sedari kemarin bertengger, perlahan mulai terbang. Saat detik demi detik penuh dengan tanya, aku lebih memilih menyeduh penantian dengan berbagai rupa yang rahasia. Cukup aku, Allah dan malaikat mengetahui, tentang bagaimana aku mengemas penantian itu. Membersamai pagi siang hingga mengunci malam dengan doa-doa yang dirangkai sedemikian rupa dan penuh kehati-hatian. Sebab aku tak ingin membuatNya murka, mendahului ketetapanNya. Cukup engkau nikmati sisa-sisa penantian ini, begitu kira-kira makna penantian yang tersirat.

Sederetan tangan yang bicara, perlahan membisu. Bungkam dalam kesibukan satu per satu. Sementara aku terus mengamati dan larut dalam renungan yang tak rampung. Mengabadikan kata dalam rupa yang lama namun baru bisa direalisasikan. 

Akan ada pe(nanti)an yang akan meminta kita untuk pergi, dan tidak tahu pasti kapan kembali. Sebab masa yang telah ditetapkan seakan meminta kita untuk berdiam lama. Meminta kita untuk menabung rasa, rindu dan melanjutkan anyaman asa yang kemarin.

Biarlah ke(pergi)an kita menjadi ketetapanNya. Nikmati masa yang tersisa, sebab nanti setelah disana takkan mudah untuk berlabuh di tanah yang kita tempati, kini. 


Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu

Ruas Malam, 18-08-2017




Tuesday, August 8, 2017

Puisi

Tentang Rindu
Oleh: Juniar Sinaga

Embun tersandung, terjatuh diantara ranting ranting doa
pun titip titip rindu telah sampai padaNYA
lewat deraian rasa dalam doa yang termaktub pada rakaat rakat pagi siang hingga petang

Bongkahan asa mencair disirami kelegaan
saat semua sampai padaNYA
kutitipkan mereka padaMU, dalam rakaat bersimbah rindu
Pekanbaru, 08 Agustus 2017

Papan tulis pandemi?

Saya lupa tahun berapa persisnya menempa papan tulis kecil ini. Namun yang jelas papan tulis kecil ini dibuat dengan jalan pikiran agar pas ...