Thursday, December 15, 2016

Pelosok

Kabar dari 'Pelosok'
Oleh: Juniar Sinaga

Aku sedang asyik mengutak-atik laptop. Seketika hapeku yang sulung bernyanyi. Tak kulihat nama penelepon yang terpampang di layar hape. "Mungkin ini teman yang ingin bertanya" aku mempositifkan pikiran. Apa yang kupikirkan ternyata salah. Sapaan dari seberang tak kukenali lagi. Suaranya berbeda, berubah. Ia adalah Formina. Siswa yang dulu belajar bersamaku sewaktu ia masih SMP. 

Bercengkerama dan bernostalgia sejenak. Tahun lalu aku meninggalkannya masih SMP. Sekarang dia sudah melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu SMA. Senang mendengarnya melanjutkan sekolah. Ia berkabar bahwa mamanya sehat. Akan tetapi ayahnya sedang kurang sehat. "Sakit seluruh badan" tuturnya ketika aku bertanya.  

Setiap kali mendapat telefon dari seberang, aku tak pernah lupa menanyakan kabar sekolah. Begitu pun malam ini. 
"Sekolah kita bagaimana kabarnya?" pembicaraan kami hampir berakhir. 
"Anak-anak tidak ada ke sekolah ibu guru. Guru tidak ada" suaranya terputus-putus. 
Aku tidak begitu kaget mendengarnya. Namun bukan berarti senang. Berulangkali aku mendengar cerita ini. Setiap kali mereka berkabar, berita ini seakan menjadi bagian dari kabarnya. 
Tak banyak solusi yang bisa kuberikan padanya malam ini. Aku hanya mengajaknya berdoa, semoga sekolahnya lancar dan sukses.

"Ibu guru baik-baik ya" pesannya di penghujung komunikasi. Aku tersenyum mendengarnya.
"Formina juga baik-baik ya" aku mengopy pesannya. 
"Saling mendoakan ya. Ibu guru doakan Formina. Sebaliknya juga ya" ujarku.
"Iya ibu guru. Saya pernah mendoakan ibu guru" kudengar tawanya di seberang.

Pelosok, kabarmu selalu kunanti. Sebab kabar darimu memintaku untuk membuka pikiran. Mendengar tentangmu, memaksaku untuk memotivasi diri.

Tulisan ini, tentang percakapanku dengan Formina. Siswaku yang saat ini di Yunggame, Papua.

Pekanbaru, 15 Desember 2016
21.40 wib

Wednesday, September 28, 2016


Lelaki Beransel Hitam

Oleh Juniar Sinaga

Matahari siang seakan marah pada pemijak bumi. Panasnya nyaris membakar kulit bagi siapa saja yang tak menutup tubuhnya. Aku yang sedang kebingungan mencari tempat parkir pun ikut merasakan panasnya. Aku menoleh kiri kanan tempat parkiran, mencari lokasi yang tepat dan nyaman. Lama aku mencari, maju mundur. Pada akhirnya aku harus merelakan diri untuk parkir di sudut kampus. 

Dari jarak yang tidak begitu jauh, aku menghampiri tempat sasaran. Saat itu Mitha hendak menghidupkan motornya, ia ingin keluar dari parkiran. "Masuk aja dulu", ucapnya. Aku hanya tersenyum sembari memutar arah kendaraan. Aku butuh beberapa menit untuk memposisikan motor. Tata letak yang kurang rapi memang menjadi salah satu kendalanya. Jika ingin menggesernya, aku tak cukup kuat. Tidak beberapa lama, seorang laki-laki beransel bergerak mengambil bagian. Aku tidak sadar kalau laki-laki itu sudah sedari tadi mengantri di belakangku. Ia meminta temannya untuk mundur dahulu, agar ia bisa memindahkan letak motor yang menghambatku untuk parkir. Ia begitu lihai. Seolah itu menjadi tugas dia, padahal aku tahu ia hanya seorang mahasiswa. 

Aku memposisikan motor di tempat parkir. Membereskan helm dan kawan-kawannya. Selang beberapa menit, aku melihat seorang wanita hendak ingin parkir juga. Kendalanya hampir sama seperti yang aku alami beberapa menit yang lalu. Lagi-lagi, dengan sigap laki-laki beransel hitam itu kembali bergerak mencari kendaraan yang bisa dirapikan agar wanita itu mendapatkan tempat parkir. Ah! "Sulit untuk menemukan orang-orang yang ikhlas sepeti ini", pikirku. 

Kutinggalkan tempat parkir dengan sedalam syukur. Berharap esoknya aku adalah orang yang bisa menggantikan peran laki-laki itu di tempat yang berbeda dan dengan cara yang berbeda, memudahkan kesulitan orang lain. "Saat kita membantu orang yang kesulitan, maka Allah juga akan membantu kita". 

Bumi Allah, 28 September 2016
20.53 wib

Saturday, April 2, 2016

Pelosok


Cerita Yang Takkan Habis


Kali ini bahasa penyampaianku tidak akan penuh dengan diksi. Sengaja.
Perkenalkan, namaku Juniar Sinaga. Kata kebanyakan orang, namaku persis nama laki-laki. Hingga terkadang dipanggil bang. Geli sendiri mendengar panggilan itu. Tapi dari lahir aku memang perempuan kok. Beneran.
Aku adalah salah satu alumni SM-3T angkatan III. Tahun 2013 lalu aku ditempatkan di Provinsi Papua tepatnya di Kabupaten Lanny Jaya. Tempatku bertugas namanya distrik Niname. Baiklah, disini aku akan berbagi cerita dengan kalian. Semua kisah yang aku jalani belum bisa dijadikan buku, jadi sementara ini, aku bagikan di blog ini dulu.

Sekolah Panggung
SD YPPGI Dome menjadi saksi pengabdianku. Sekolah ini bagus. Bangunannya masih kokoh. Bagiku sekolah ini unik, dan aku menamainya "Sekolah Panggung". Sekolah ini memang tidak semewah gedung di perkotaan. Namun pemandangan indah di belakang sekolah ini senantiasa membuat hati takkan bosan. Udara yang sejuk juga menjadi teman sehari-hari. Biar kutunjukkan gambarnya, agar kalian bisa melihat bahwa keindahan inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuatku betah disini selama masa pengabdian. 


Coba lihat, indah bukan? Dari tempatku tinggal, setiap paginya aku bisa melihat anak-anak yang turun dari bukit menuju sekolah. Aku bisa melihat mereka yang sedang asyik bermain kelereng di atas bukit. Aku bisa mendengar suara mereka di atas bukit. Aku bisa melambai-lambai pada mereka. Yah, walaupun tak tampak jelas oleh mereka. 
Tempat ini juga strategis. Jadi, dari pagi, siang hingga petang aku bisa melihat masyarakat berjalan melalui jalan yang ada di depan rumah. Jalan ini memang belum rata semasa aku disana. Mudah-mudah sekarang sudah lebih baik. Aku bisa menyapa masyarakat yang lalu lalang. Misalnya ada mama-mama yang berjalan menuju kota, kita akan saling bertegur sapa. Disini budaya saling bertegur sapanya, tinggi. Walau hanya sekedar "Selamat pagi/selamat sore/selamat pagi. Setiap bertemu pasti akan saling menegur. Jadi jangan heran, kalau satu waktu nanti kesana, akan dapat sapaan juga salam. Mama disini tangguh, itu menurutku. Sepertinya mereka tidak pernah mengenal kata tidur siang. Pagi sudah ke kebun menggali ubi dan sore baru kembali. Ubi itu untuk stok esok harinya. Pagi harinya mereka akan membakar ubi sebagai sarapan pagi, termasuk untuk anak-anak yang akan berangkat ke sekolah. Berikut saya tunjukkan fotonya ya. Biar bisa lihat dengan jelas.

Tuh benar kan? Sekilas dilihat memang biasa saja. Namun bagiku, disini banyak makna kehidupan. Pokoknya banyak makna kehidupan disini. Aku malah berpikir bahwa aku ini belum bersyukur. Tentang kerendahan hati. Tentang menyayangi orang lain yang mungkin belum ada apa-apanya dibanding mereka yang memiliki ketulusan hati dan kesabaran yang lebih. Dan gelar bukanlah satu-satunya indikator untuk mengukur ketulusan hati kita. Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa rendah hati, walau sebanyak apapun ilmu kita, setinggi apapun jabatan kita serta sebanyak apapun harta yang kita miliki. Sebab dunia bukan kekekalan, namun persinggahan.

Juniar Sinaga

Papan tulis pandemi?

Saya lupa tahun berapa persisnya menempa papan tulis kecil ini. Namun yang jelas papan tulis kecil ini dibuat dengan jalan pikiran agar pas ...