Wednesday, February 14, 2018

Gula Getah

Siswa kelas V SDN 011 Candi, Kep. Anambas
Sumber: Dokumentasi penulis

Di Rabu siang, untuk ketiga harinya aku (lebih) terakhir balik sekolah. Jauh dari waktu yang biasanya. Ada sesuatu hal yang belum mengizinkan untuk bisa pulang seperti biasa. Aku duduk mengutak-atik laptop dan hape di ruangan wifi sekolah. Sesaat kemudian, anak-anak berdatangan. Bergerombok bak semut, mengelilingku. 

"Ibu balik jam berapa," tanya mereka.
"Nanti sebentar lagi," kembali kusambangi goresan di layar laptop.
"Ibu jalan kaki ya?" tanya mereka. Aku hanya menggangguk-angguk sambil tersenyum.
"Kasihan Ibu," sayup kudengar suara itu berulang-ulang.
Aku keasyikan dengan laptop. Sehingga suara bising yang lalu lalang tak kuhirauakan. Sesekali kupandangi wajah anak-anak. "Sungguh, jasad anak-anak ini tiada lelahnya," pikirku.
"Ibu nanti balik jam berapa?
"Kami nak antar ibu balik, tapi kami terobosan sore," ujar mereka dengan wajah teringin mengantarkanku balik.
"Tak apa. Ibu bisa balik sendiri kok," ujarku sembari tersenyum.
"Ibu ndok bawa bekal ya?" tanya mereka seakan tak habis.
"Bawa," jawabku singkat.
Beberapa menit berlalu, salah seorang anak memberiku permen karet. 
"ini apa namanya?" tanyaku.
"Gula getah Bu," jawab mereka berlomba-lomba.
Aku tertawa mendengar jawaban mereka. Memang bukan bahasa yang baru bagiku.
"Ini untuk Ibu e. Dimakan e bu. Nanti kalau ndok Ibu makan, kami menangis," ujarnya.
Aku hanya tertawa sembari menatapinya. Sebegitunya, pikirku.

Pagi ini, Kamis 15 Februari kembali kudapati tanya.
"Gula getah yang kami kasih lah ibu makan lom?
"Belum," jawabku.
"aok Ibu ni. Bila Ibu nak makan," ucapnya.
"Nanti Ibu makan," aku tersenyum.
"Kalau Ibu ndok makan, usah kasih ke orang e Bu. Itu kami beri untuk ibu," tambahnya.

Momen ini mengingatkanku pada anak-anak di Papua. Aku pernah mengalami momen yang nyaris sama. Latar berbeda, namun ada kondisi yang nyaris menyerupai. Ada dialek yang dialek yang berbeda. Ah! aksara. Apakah engkau akan kutemukan utuh di latar ini?

Anambas, 15 Februari 2018
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-


Friday, February 2, 2018

Gelak Memori (Part 2)

Juniar Sinaga
Masih tentang gelak memori saat pelepasan GGD di Jakarta. Malamnya, aku tidak bisa turut serta mengikuti kegiatan mengenai teknis keberangkatan. Alasannya bukan karena begitu sibuk, namun karena sebuah amanah. 
Pun, aku tak pernah menduga bahwa akan kutemukan gelak tawa non konyol, kukira. Berlanjut pada perbincangan teman satu bilik. 
"Kak, besok Nur masuk rombongan bus nomor berapa?"
"Si kakak menanyakan nomor urutku. Lantas dengan singkat ia menyebutkan nomor busnya".
Jadi ceritanya, setiap bus itu telah ditentukan koordinatornya. Dan setiap koordinator bertugas untuk mengecek anggotanya masing-masing. Aku sendiri begitu optimis dengan penjabaran kakak satu bilik.
Hingga akhirnya, sampailah pada keesokan harinya. Aku masuk ke dalam bus sesuai dengan nomor rombongan yang disebut si kakak. Aku santai saja dalam bus ibu. Kotak kue sudah tersedia di atas kursi. Tinggal makan, kalau memang ingin.
GGD menuju gedung Kemdikbud
Sumber: Dokumentasi penulis
Perlahan tapi pasti, sang koordinator pun mulai mengabsen anggotanya. Satu per satu dipanggil. Tapi kok namaku tak dipanggil ya? Qodarallah, waktu itu aku memang mengenal koordinatornya. Namun kupikir itu tak memengaruhi pengabsenan. Lantas aku bertanya pada teman yang sama sekali belum kukenal, namun posisinya tepat di samping tempaku duduk. 
"Mba, kok nama saya tak dipanggil ya?"
"Mungkin karena koordinatornya kenal mba, makanya sudah langsung diceklis".
"Apa iya ya begitu," pikirku. 
Selang beberapa menit, hapeku berdering. Dari seberang terdengar sahutan "Nur, kamu dimana? dari tadi namamu dipanggilin," ujarnya. 
Waduh! Aku sudah terbayang bakalan ditertawakan yang lain. Mau sembunyi dimana ini?
Aku bergegas ingin turun. Sang koordinator memanggilku " mau kemana kak Jun?".
"Saya salah bus Bang," jawabku. 
Saat posisiku ingin melangkah kelaur, si mbak yang berada di sampingku masih sempat berujar " Mba, kuenya ini tak dibawa?". Tak sanggup menahan ketawa mengingat momen ini. Serius.
"Tidak usah turun kak Jun. Tak apa-apa. Ini sudah mau berangkat kok," ucap sang koordinator.

***
Aku masih merasa malu. Saat tiba di gedung Graha Kemdikbud, aku "diomelin" koordinator yang sebenarnya. Aku hanya tertawa. Namanya juga ketidak sengajaan. Sudah salah info dari awal. ^_^.

Aku melanjutkan langkah, menemui si kakak satu bilik.
"Kak, Nur salah bus e," ucapku sembari bersembunyi di punggungnya. 
"Nur malu," ucapku sembari tertawa.
"Maaf Nur, kakak salah arahan," ujarnya sembari terkekeh.
Ah! ada-ada saja hal konyol yang ditemui.
***
Saat pemberangkatan menuju acara, sepasang mataku sempat tertuju sekilas pada perpustakaan kemdikbud.
"Harus mampir nanti," ujarku dalam hati.
Kegiatan pelepasan telah berakhir. Aku berpisah total dari teman-teman sebilik, semuanya. 
Usai bercakap-cakap dengan salah seorang Bapak yang bekerja di kemdikbud, aku berpamitan.
Perpustakaan Kemdikbud
Sumber: Dokumentasi penulis
Dengan modal tekad dan nekat, aku meraba-raba jalan menuju perpustakaan kemdikbud. Entah kenapa aku tak peduli tanpa teman saat itu. Aku mengamati ruangan perpustakaan itu. Di dalamnya terpajang foto-foto pemenang fotografi yang diadakan kemdikbud.
"Ah, teringin rasanya karyaku juga bisa terpajang disini," aku menghela nafas. 
Aku meminta bantuan pada seorang wanita yang saat itu juga sedang berkunjung.
"Ibu, bisa minta tolong? Mau foto disini," ucapku dengna lembut.
"Nanti gantian ya. Saya juga ingin foto," ujarnya sembari tersenyum.
Rencana telah kesampaian. Sekembalinya dari perpustakaan, aku sedikit ragu arah pulang. Aku tidak takut, sebab ada petugas yang bisa ditanya. Hingga pada detik yang tak lama, kakak se-Indonesia datang dari arah gedung kemdikbud. Ia tampak mengulum senyum. Aku tak tahu apakah tersenyum karena melihatku yang tampak seolah "linglung" atau entahlah.
Dan lagi, aku ketinggalan bus. Hanya tinggal satu rombongan lagi yang tersisa. Setia menunggu peserta yang tertinggal. Aku masuk dalam deretan itu. Kekonyolan apa lagi ini?
Aku senyam-senyum mengingat kejadian-kejadian unik yang kutemui dari pagi hingga siang. Pagi, salah bus, siang ketinggalan bus. Lagi, lagi aku tak dapat menahan tawa saat menuliskan ini.

Selalu saja ada hal lucu yang kita sebagai pelakonnya. Semuanya terjadi tanpa kita persiapkan skenarionya, namun Allah sudah mengetahui sebelumnya. Gelak memori, lestari di palung hati.

03 Februari 2018
Wa ila rabbika farghob
Keep Tawadhu
-Juniar Sinaga-

Papan tulis pandemi?

Saya lupa tahun berapa persisnya menempa papan tulis kecil ini. Namun yang jelas papan tulis kecil ini dibuat dengan jalan pikiran agar pas ...