Tuesday, October 3, 2017

Membaca Latar dan Pelakonnya

Aku terus belajar membaca latar yang baru, juga pelakon yang bermukim di dalamnya. Sederetan karakter dan dialek yang berbeda belum rampung kupahami. Bukan hanya yang ditemui yang dibaca, bahkan kaki-kaki yang melangkah bersamaan di latar ini pun masih harus kubaca dengan seksama.

Di pintu pagi sering kutemui resah, namun wajahku tak sampai basah. Sebab simpuh di seba'da adzan subuh masih ada untuk penguatan. Pun punggung lantai masih ada untuk tempat bersimpuh. Beragam desah dan gelisah pun tak luput di ruang-ruang perkumpulan para pemilik karakter yang berbeda. Sementara aku hanya terus berpikir sembari memohon kelembutan hati. Apakah mungkin kita terus meng-ego-i, memikirkan kepentingan diri kita sendiri. Lalu setelah itu kita bernyanyi dengan nyaring tanpa memikirkan kepentingan lainnya. Apakah mungkin kita mengingkari, kata-kata kebersamaan sedari awal, lalu kita mementingkan keinginan diri sendiri, meninggalkan yang lainnya tertatih dan merintih. 

Dalam palungan bumi, akan selalu ada keadaan yang meminta kita untuk berusaha memahami, bukan sekedar mengerti, apalagi harus meng-ego-i. Dan dari keadaan itu pulalah kita akan belajar membangun kedewasaan diri dan belajar untuk mencari solusi. 


Candi, Kepulauan Anambas
03 Oktober 2017

Wa ila rabbika farhob
Keep tawadhu
Juniar Sinaga

Thursday, September 7, 2017

Sepasang Senyuman

Malam bukan jenaka, namun ada saja tawa yang terdampar di spasi kata. Bukan sesuatu yang disengaja, namun jemari mengejanya begitu saja. Kami bukan makhluk puitis tuan, hanya saja sedang belajar membaca makna implisit, yang ternyata begitu sulit.

Kata memang bukan senjata. Iya, senjata yang kutahu adalah doa. Namun, mereka bilang senjata penulis adalah kata. Apakah tuan seiya dengan mereka?

Kami terkesan bersinestesia. Renungkan saja, tangan seakan melihat. Padahal, ada sepasang mata yang jernih dicipta untuk mengamati sekeliling kita. Dan mata seakan merasa, padahal jelas indera pengecap, pun jelas telah dicipta. Semisal senyuman yang dibaca, lewat sepasang emoticon biasa. Bukankah ia juga telah dibaca oleh mata? Padahal seharusnya adalah dibaca lisan kita.


07 September 2017
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-







Tuesday, September 5, 2017

HarLah SM-3T, 6 Tahun

Kilas Balik

Sulit untuk memulai cerita ini darimana. Aku mengenalimu sejak masih di titik akhir perampungan tugas akhir. Walaupun belum mengenal dari keseluruhan sisi. Mencari informasi tentangmu terus menerus adalah bentuk keseriusanku untuk menjadi bagian darimu kala itu. Bahkan, rasa segan yang menebal, sedikit kukikis waktu itu agar berani bertanya kepada dosen pembimbing. Bahkan, sempat juga aku meminta petuah sebelum "memilihmu'. 
Aku bak seseorang yang sedang 'jatuh cinta', karena tak ingin melewatkan kabar tentangmu.
Memasuki akhir tahun 2012, aku rampung menyelesaikan satu amanah. Tinggal pengukuhan sebentuk wisuda yang kutunggu, dan selanjutnya akan dilaksanakan di tahun 2013. Di tahun itu pula, kabar tentangmu berhembus ke setiap penjuru. Aku menggebu, tak sabar ingin menjadi bagian dari dirimu. Namun, ada buncah yang sulit untuk ditepis. engkau tahu kenapa? Sebab aku masih harus meminta restu kepada keluargaku. Memilih bersamamu memang hak prerogatifku. Namun memilih tanpa sebuah restu, tak bisa melanjutkannya pada langkah yang lebih jauh. Aku menyeka air mata, meredam sedih lewat isak tangis yang terus tersembunyi. Kupikir, bukan kehadiranmu yang tidak tepat kala itu. Hanya kondisi saja yang sedang kurang kondusif untuk mengizinkanku pergi bersamamu, sebab bukan sehari dua hari, bukan juga dengan 1,5 spasi jaraknya. 'Kegalauan' yang menyatu dengan melankolis hingga akhirnya sempurna menjadi sebuah 'kepasrahan'. 
Perlahan, aku ingin mencoba melupakanmu. Hingga nyaris kupikir, mungkin engkau bukan "jodohku'. Namun tetap saja aku tidak mampu. Roman pelosok negeri telah membayang di pikiranku. Walau hari demi hari aku terus 'bergerak' agar kiranya bayangmu hanyut dalam setiap manuver yang belum menepi. Di jeda 'kegundahan' yang belum luput, dengan semangat yang tersisa, berulang kali aku melobi keluarga. Terkadang hujanku lebih awal turun sebelum tendensi landing.
'Biarlah situasi kondusif dulu,' begitu rangkuman yang kudapatkan. 
Menyingkat eksposisi tentang spasi demi spasi untuk bisa membersamaimu, akhirnya keluarga merestui. Selembar kertas berisi segala persyaratan diberikan padaku. engkau tahu, tumpah hujanku seketika. Rasa bercampur, kurasakan waktu itu. Kubaca prosedur yang tertera dalam lembaran itu, agar kiranya tahu paragraf langkah harus dimulai dari arah mana. Semuanya aku rampungkan, hingga akhirnya September 2013 aku menjadi bagian dari dirimu. Selalu saja aku ingin bercerita tentangmu, bahkan takkan habis hingga saat aku menuliskan ini. 

Setelah kepulanganku dari latar yang telah memberiku banyak makna, untuk pertama kalinya aku menuliskan tentangmu di blog dengan paparan sederhana namun cukup panjang. mengabdi-untuk-negeriku-bersama-sm-3t. Itu hanya sebentuk ungkapan rasa 'cinta' yang sederhana dariku. Sebab semua potret pelosok yang kuabadikan  masih tersimpan di ruang data, dan tak banyak yang kusuguhkan di dunia maya.
Dalam setiap pertambahan usiamu, selalu saja ada ide-ide 'konvensional' yang bergelantungan di ranting-ranting pikiranku. Di pertambahan usiamu keempat, aku berada pada kondisi 'melemah' baik fisik maupun pikiran. Berjuang dalam tahap semi akhir yang juga menjadi bait kebersamaan denganmu. Pada situasi itu pula, aku melukis ucapan sederhana untukmu di sela-sela kondisi 'tertatihku'. 

Di sela-sela kesibukan PPG tahun 2015
Pun selanjutnya, pada pertambahan usiamu kelima tahun, bersama MSI Riau merealisasi rencana kepedulian sebentuk rupa berbagi dengan sederhana. Bahkan aku terkadang berpikir bahwa perealisasian itu bukan sebuah pencapaian  yang bermakna besar. Namun, sadarku bahwa seribu langkah berawal dari satu dua langkah kecil, hingga aku terus membangun pikiran untuk bergerak walau lewat gerakan kecil. Seperti sebuah hadits Rasulullah Shallahu'alai wassalam "Amalan yang dicintai Allah adalah amalan yang rutin walaupun sedikit (HR.Muslim). 

Spanduk manual ala MSI Riau di HarLah SM-3T kelima
Aku adalah musuh untuk diriku sendiri. Sehingga saat ekspektasi terlalu tinggi, namun tanpa ikhtiar dan realisasi, bagai mimpi buruk yang menggerayungi. Dari hal itu pula aku belajar untuk berupaya bergerak sesuai dengan kapasitas yang kusanggupi, walau hanya sebentuk narasi dan deskripsi. Suatu hari, seorang senior menyampaikan sebuah nasihat saat aku meminta saran dan berbagai solusi. "Jangan menunggu ahli, baru mau berkontribusi," sahut beliau. Aku hanya mengangguk-angguk sembari meresapi isi nasihat itu. Ditambah lagi dengan santapan yang kudapatkan lewat bacaan, "Di atas langit masih ada langit. Di bawah bumi masih ada bumi. Berbagilah sesuai dengan kemampuan yang kita bisa". Makna yang disampaikan oleh penyampai nasihat ini yaitu bahwa orang yang memberi, orang yang berbagi, sejatinya bukan karena mereka memiliki hal yang berlebih atas apa yang dibagikan. Dan jangan menunggu berlebih dulu. Dalam setiap kelebihan yang dimiliki seseorang, masih ada yang lain yang juga memiliki kelebihan dari yang dimilikinya. Sebaliknya, dalam sebuah kekurangan yang dimiliki seseorang, masih ada juga yang lebih kekurangan darinya. Sehingga, berbagi jangan menunggu berlebih. Kira-kira begitu maknanya.
Banyak makna hidup dan kesempatan yang kudapatkan. Sehabis kepulangan dari penempatan, yang waktu itu menjadi peserta yang lebih awal dipulangkan sebab kondisi yang SANGAT tidak kondusif. Sebab nyawa telah menjadi taruhannya. Di tahun 2014, terbuka sebuah kesempatan untuk mengikuti sebuah lomba yang tema-nya masih dalam jalurku. Dengan sebuah keyakinan dan keberanian, aku mencoba mengirimkan foto siswa yang kuabadikan di sela-sela mengajar. Dan sore hari pada jam dan waktu yang tak kuingat lagi, rasanya bagai 'dilamar tiba-tiba'. Kaget, senang, namun tetap berusaha tenang waktu itu. Foto siswa yang kukirimkan membawaku pada juara 2. Aku senang waktu itu, namun sekedarnya saja, tak mau berlebihan. Dan kesempatan itu membuka beberapa kesempatan lainnya. Sebab lewat lomba itu, aku mendapatkan kesempatan dan diundang liputan 6 untuk bisa turut serta dalam silaturahmi SM-3T Se-Indonesia, dan bertemu pak menteri pendidikan Bapak Muhammad Noh. Salah satu sosok yang juga aku kagumi. 
Sebuah kesempatan membuka kesempatan lainnya
Banyak hal yang belum kuuraikan dalam tulisan ini. Sangat banyak dan teramat panjang. Bahkan jika mengikuti pikiran dan jemari, ingin rasanya aku tuliskan semua disini. Namun, biarlah paragraf selanjutnya kutitip dan kusimpan menjadi kenangan yang tiada tepinya, kecuali jika Allah telah meminta pulang. Maka kenangan itu pun akan kubawa juga.


Kontemplasi Kontribusi
Tentang kontribusi, rasanya aku masih jauh dari ke-maksimal-an dalam berkontribusi. Aku bahkan mampu menghitung kontribusi yang telah kulakukan, masih hitungan jari. Sementara engkau, usiamu masih sangat muda, masih umur anak SD yang jika engkau berwujud manusia barangkali masih menduduki bangku kelas 1 SD. Namun kontribusimu, Allah yang lebih mengetahui. Usia 6 tahun, engkau mempu memberikan banyak makna, banyak maslahat. Padahal jika bertumpu pada usiamu, harusnya engkau masih ditopang, diarahkan. Akan tetapi, ke-terbalik-an yang kulihat. Justru di usia yang sebegitu dini, engkau telah mendewasakan diri. Aku salut! Ajarkan aku untuk terus bergerak, berbuat, berbagi dan menginspirasi tanpa henti. Ajarkan aku untuk terus ikhlas, menghadirkan empati yang tiada tepi. Barakallah SM-3T Keenam tahun. Pertambahan usia ini adalah amanah. Sebab dengan bertambahnya usia ini, berarti Allah memberimu kesempatan untuk berbuat lebih banyak untuk orang banyak. Amanah untuk menjadi bagian dari pemerataan sudut-sudut negeri yang belum merata. Semoga pikiran ini, kaki ini, tangan ini, dan seluruh yang telah Allah berikan menjadi bagian yang turut membersamaimu berjuang ke sudut sana. InsyaAllah wa biidznillah.

Salam Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia

Pekanbaru, 05 September 2017
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu

Juniar Sinaga
SM-3T Angkatan III









Saturday, September 2, 2017

Puisi



Aroma syahdu rebak di teras pagi. Menyalakan raga yang padam dalam malam. Mekar sepasang tunas yang picing. Dibasuh teduh berlanjut pada simpuh di geladak yang menggigil. Doa memecah bening yang bersembunyi di sudut sayu.

Pekanbaru, 11 Dzulhijjah 1438 H/2 September 2017

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-

Wednesday, August 30, 2017

Penantian berakhir Penipuan

Belakangan ini, setiap kali membuka channel televisi, berita tentang penipuan berserakan di layar kaca. Fokus berita yang ingin tuliskan yaitu penipuan terhadap masyarakat yang sudah lelah dan bahasa lebaynya sampai tertatih untuk menabung agar bisa sampai menuju Baitullah. Namun, sayang sungguh disayangkan, uang mereka kini hilang tak berbayang. 

Saya membaca raut kecewa di wajah mereka dan penuh harap uang kembali. Sebagian lagi memiliki harapan yang berbeda, kalau sekiranya uang tidak kembali pun, setidaknya mereka tetap diberangkatkan ke tanah suci. Dalam kondisi mereka yang kehilangan uang yang sudah ditabung sekian lama, dengan kasus seperti ini mereka mau tidak mau harus membayar pengacara lagi untuk mendampingi mereka untuk menyelesaikan kasusnya. Berlipatlah pengeluaran mereka. Saya bahkan tak berani ber-andai jika saya di posisi mereka. Karena saya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya.

Hikmah yang saya ambil dari kasus ini adalah agar lebih berhati-hati. Apalagi ini urusannya untuk ibadah. Mencari tempat yang aman dan terpercaya barangkali menjadi PR untuk selanjutnya. Semoga kasus ini mampu membongkar kasus-kasus sama yang mungkin sudah mengendap sejak lama. Sehingga ke depannya tidak terjadi kasus yang sama.


Kamis, 09 Dzulhijjah 1438 H/31 Agustus 2017

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
Juniar Sinaga

Tentang Niat dan Sebuah Proses

BEBERAPA hari yang lalu, seorang ibu bertanya pada saya. 
"Nur berapa lama menyelesaikan buku MCDP itu?"
Saya tersenyum mendengar pertanyaan beliau. "Nur mulai meniatkan menulisnya sejak 2013 bu. Tapi selesainya baru tahun 2017," aku merasa malu menceritakannya. 
"Saya sudah pernah menulis. sudah siap beberapa halaman tapi sampai sekarang belum jadi juga," ujar beliau sembari melemparkan senyum. Saya pun, hanya bisa tersenyum. Tak mampu memberikan eksposisi.

Saya memang memulai membuat kerangka buku MCDP itu baru di bulan September 2013. Bertepatan dengan bulan keberangkatan menuju lokasi pengabdian. Namun, kalau niat dan keinginan memiliki karya solo, sudah sejak lama. Dan bahkan point itu selalu saya masukkan dalam daftar capaian pada setiap penghujung tahun. Biasanya saya menuliskan resolusi untuk setiap tahunnya. Walaupun terkadang saya tidak begitu peduli apakah akan tercapai atau tidak nantinya semua resolusi itu. "Rencana yang belum tercapai saya pikir masih lebih baik daripada tidak memiliki rencana apapun sebelumnya".

Buku Gurunya Manusia yang ditulis pak Munif Chatib menjadi salah satu referensi saya saat menulis buku MCDP itu. Bagaimana memetik momen demi momen saat bersama anak-anak. Sementara untuk menambah motivasi saat di penempatan, saya sempat juga membaca bukunya Butet Manurung, yaitu Sokola Rimba. Saat itu saya pinjam buku teman, karena belum memiliki bukunya. Intinya membaca buku-buku yang memiliki tema yang sama dengan buku yang hendak saya tulis. Yah, walaupun hasilnya belum sebagus karya mereka. Sebab semuanya berproses.

SEJUJURNYA, saya berupaya untuk menghasilkan karya bukan berniat untuk menuai sanjungan dan materi. Pujian dan materi bukanlah orientasi pokok saya dalam berkarya. Saya pikir, dua pokok itu adalah bonus yang didapatkan oleh seseorang yang menghasilkan karya. Berkarya itu sebenarnya, saya sedang dan terus menantang diri bahwa saya harus dan bisa. Dengan melibatkan niat, proses serta kemauan. Dan menggali potensi yang positif, saya pikir itu juga merupakan bagian dari mensyukuri nikmat dari Allah. Saya teringat quotes seorang penulis yang karya sudah bertumpuk tersebar di toko buku.

"Jadilah yang terbaik semampumu. Bukan untuk membuat orang lain tertarik padamu. Tapi demi rasa syukur padaNya yang telah menciptakanmu dengan sempurna" (Ahmad Rif'ai Rif'an).

Ketika membaca quotes ini, maka tersirat di dalamnya tentang sebuah niat. Dan demikian yang terus saya upayakan. Bagaimana untuk terus memperbaiki dan meluruskan niat agar jangan sampai berorientasi pada hal-hal yang bersifat duniawi. Sebab saya sangat yakin dan percaya bahwa niat itu 100% berpengaruh pada ada yang akan kita lakukan. Untuk merealisasikan dan mewujudkan rencana yang telah diniatkan tadi, masih dibutuhkan sebuah proses. Proses itu beragam jangka waktunya. Bisa sehari, sebulan, setahun dan bahkan bertahun-tahun. Jangka waktu yang dibutuhkan untuk menyeduh secangkir kopi yang bahannya telah tersedia tentu berbeda dengan waktu untuk mendapatkan nasi yang bahan bakunya  belum tersedia sama sekali. Demikianlah dalam berkarya, berproses, dan butuh waktu.

Sabar dalam berproses, apalagi dalam merealisasikan dan mewujudkan segala rencana. Nasihat itu masih saya pegang hingga saat ini. Dan yang penting, memperbaiki niat dan melibatkan Allah Ta'ala, agar berkah. 

Penghujung Agustus
08 Dzulhijjah 1438 H/30 Agustus 2017

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
Juniar Sinaga



Thursday, August 24, 2017

Muhasabah

Tentang Ujian

"Mukmin itu, jika diberi ujian dia bersabar. Dan jika diberi nikmat dia bersyukur"
Menghadapi sebuah ujian dan musibah itu bukan perkara mudah. Namun, mengapa kita masih sanggup tersenyum, mampu tertawa walau terkadang sedang berada pada kondisi ini? Jawabannya yaitu karena Allah. Jika permasalahan yang silih berganti adalah akhir dari sebuah kehidupan, barangkali kita akan menjadi salah satu bagian dari golongan itu. Akan tetapi, oleh kekuatan iman dan atas sebuah keyakinan bahwa semuanya takkan melampaui batas kemampuan, maka kita masih terus mengikhtiarkan untuk kuat dan bertahan. 


Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat kebajikan (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya (QS. Al-Baqarah:286)

Ayat sempurna dari Ar-Rahman yang menjadi sebuah referensi bagi kita untuk terus yakin dalam menghadapi berbagai hal yang menghampiri, baik itu musibah ataupun nikmat. Sebab, baik musibah dan nikmat, keduanya merupakan ujian yang bisa menghantarkan kita kepada keburukan atau sebaliknya yakni kepada kebaikan. Saat musibah yang datang, menjadi bagian muhasabah, maka akan bertambah jarak kedekatan kita pada Allah. Sebaliknya, nikmat yang datang pun bisa men-jarak-kan kita dengan Allah. Karena kita seolah berpikir bahwa segala nikmat yang didapatkan, semuanya atas kerja keras dan ikhtiar kita semata. Pikiran seperti ini akan menghantarkan kepada kekufuran, dan ini hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang ingkar. 

Mampu bertahan menghadapi segala perkara, bukanlah karena kekuatan diri kita. Bukan juga sebab kehebatan yang kita miliki, melainkan karena Allah. Maka bersyukurnya kita yaitu ketika musibah demi musibah yang ada, memperdekat jarak kita dengan Allah. Demikian juga dengan nikmat yang kita terima, ianya pun membuat keimanan kita semakin kuat.

Sebuah keyakinan yang terus kita tanamkan yaitu bahwa segala sesuatu yang terjadi biidznillah. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Maka saat sesuatu hal terjadi, tidak ada kata 'kebetulan'. 
Qoddarullah wama syafa'ala


Jum'at, 2 Zulhijjah 1438 H/25 Agustus 2017

Wa ila rabbika farghob
Rabbana 'alaika tawakkalna
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-



Papan tulis pandemi?

Saya lupa tahun berapa persisnya menempa papan tulis kecil ini. Namun yang jelas papan tulis kecil ini dibuat dengan jalan pikiran agar pas ...