Tuesday, January 30, 2018

Bonus jalan-jalan dari ALLAH


Biasanya aku berlayar ke ibukota kabupaten pas hari Sabtu. Sebab di hari itu kegiatanku biasanya berlangsung. Malamnya aku harus menginap di kos saudari baruku. Esok harinya baru kembali menuju pulau, tempatku bertugas. Namun di penghujung bulan ini, jadwal keberangkatanku berubah, beralih ke hari Ahad. Tadinya aku sudah berpikir untuk tidak pergi. Memikirkan transportasi, juga karena kondisi jasad yang lumayan tidak begitu fit. Bukan dengan berat langkah, aku meminta rekan untuk mengantarkanku ke pelabuhan speed. “Ada atau tidak adanya nanti speed itu urusan kesekian. Setidaknya aku sudah berikhtiar dulu sebelum memutuskan untuk mengonfirmasi ke teman lainnya,” pikirku. Targetku jam 7.30 wib sudah harus berangkat. Namun, harapan takkan selalu selaras dengan kenyataan. Lama menunggu, penumpang belum juga ada yang datang. Di latar ini, kalau kita mau bepergian biasanya menggunakan pompong (motor laut) atau speed, termasuk sebatas menuju ibukota kabupaten. Kalau naik speed, penumpang minimal 5 atau 6 orang baru berlaku harga ongkos normal. Jika hanya 2 orang, biasanya sistem carter, artinya berlaku penambahan ongkos dari harga yang biasanya.

Memanjangkan sabar sembari mendengarkan cerita dari orang tua siswa yang sedang menunggu penumpang. Aku lupa entah menit keberapa baru muncul 2 penumpang lainnya. Sementara waktu telah menunjukkan pukul 08.30 wib. Aku mengomunikasikan dengan teman yang lainnya. Alhamdulillah mendapat keringanan waktu, agenda diundur jam 09.00 wib. Kembali menunggu, namun penumpung urung bertambah. Kembali ke pilihan terakhir, penambahan ongkos. “Tak apalah,” pikirku. Yang penting hari ini bisa hadir untuk agenda ini.

Ombak tidak begitu ganas pagi itu. Hanya saja saat mendekati ibukota kabupaten, sesekali hempasan air laut ke badan speed sangat terasa. Dalam waktu 30 menit, perjalanan berakhir. Alhamdulillah sampai dengan selamat.

Ini untuk pertama kalinya aku hadir dengan keterlambatan yang paling lama. Tapi tidak apa, qodarallah. Selepas kegiatan, tak banyak melangkah ke petualangan lainnya. Sebab masih harus memikirkan kendaraan pulang. Tak ramai speed yang bertengger di pelabuhan. Dan untuk menuju tempatku balik pun, sama sekali tidak ada. Aku menuggu, hingga pandanganku beralih pada lelaki tua yang biasa mengantarkanku jika ke ibukota kabupaten. Tapi sayangnya, kali ini lelaki tua itu tiak bisa mengantarkanku sebab beliau masih harus mengantarkan penumpang yang telah memanggilnya. Istilah kerennya “sudah dicarter”. Penumpangnya hanya satu, namun barangnya banyak. Dengan loby  ala diriku, akhirnya penumpangnya tidak keberatan. Alhamdulillah.

“Kita ke Nongkat dulu ya, ngantar bapak ini,” begitu kata lelaki tua itu.
“Iya, Encik tak apa,” jawabku singkat.
“Saya diantar dulu ya Bu, baru nanti Ibu,” ucap penumpang bertubuh kekar itu. Badannya kekar, namun sudah tidak muda lagi.
“Iya Pak,” jawabku singkat.

Mendengar Nongkat, aku seakan tidak percaya sore itu bahwa aku akan singgah disana. Sebab pulau Nongkat termasuk salah satu pulau yang ramai dikunjungi saat musim liburan. Dan nama pulau itu sudah kudengar sejak kemarin. Bahkan siswaku mengajak kesana, namun belum kesampaian.

Aku menikmati hempasan ombak, birunya lautan. Semakin dekat dengan pulau Nongkat, kebeningan semakin tampak. Sampah-sampah pun tidak ada kelihatan. “Sungguh, beruntungnya hari ini,” lirihku. Mungkin jika tadi pagi aku membatalkan perjalanan, takkan sampai ke tempat ini,” senyumku merekah.

“Ibu sudah sampai di Nongkat,’ ujar lelaki tua itu saat speed berhenti. Aku tersenyum dan tak mampu berkata-kata. “Akhirnya sampai juga ke tempat ini. Indah rencana Allah,” ucapku.
Sekembalinya, aku seperti sedang berlibur bersama kakek sendiri.
“saya berdiri ya Encik,” ucapku.
“Iya, ndok ape,” ujar Encik sambil terus fokus mengemudikan kendaraan.
Sesampainya di tujuan, ongkos yang kusodorkan pun tidak diterima.
“Ndok ape, diambil ojo,’ ucap lelaki tua itu.
“Nikmat apa lagi yang Allah berikan ini?” Lagi, lagi dan lagi.

***

 Aku sangat meyakini bahwa ketika kita mendahulukan Allah, merendah di hadapanNya, memasrahkan padaNya, maka akan ada kejutan yang datang dariNya. 
Lingkaran cinta. Adalah jalanku untuk mengisi ruhiyah. Jarak yang lumayan jauh tentu saja terkadang menggoda untuk meminta izin. Namun kembali lagi pada niat. Tanpaku lingkaran itu tidak akan mengapa, namun tanpa lingkaran itu terasa hampa. Bukan lingkaran itu yang membutuhkanku, namun aku yang membutuhkannya. Aku selalu mengingat nasihat guruku. Meminta izin untuk lingkaran ini semestinya jika memang ada udzur yang tak ter-elakkan. 
Pagi tadi, kondisi transportasi sudah menguji. Ingin memilih kembali dan izin saja hari ini. Namun, aku baru sadar itu sebagai ujian setelah kembali. Barangkali Allah ingin menguji keimananku, menguji seberapa bijak aku untuk menentukan pilihan dalam situasi yang sebenarnya tidak rumit namun juga tak mudah. 

Memilih untuk melanjutkan perjalanan. Bersua untuk saling menguatkan. Sekembalinya, Allah memberikan banyak bonus serta kesempatan untuk bisa menyinggagi salah satu pulau yang sedari kemarin hanya ada di telinga dan di angan. Aku kembali mengingat nasihat guruku. "Dahulukanlah Allah, maka Allah akan memudahkanmu". Sungguh, sangat benar adanya. Allah, Allah, Allah.

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-


Friday, January 26, 2018

GELAK MEMORI (Part 1)

Kejutan yang tidak mengejutkan
      
    Ada beragam momen yang acapkali sulit untuk dimusnahkan. Wajar, sebab momen positif memang tidak semestinya dimusnahkan. Seperti momen saat aku dan ribuan rekan-rekan se-Indonesia mendapat kesempatan untuk turut serta menyaksikan pelepasan Guru Garis Depan 2016 (GGD 2016). 
     Jika menarik ulur cerita, aku bahkan seakan tak percaya akan kesempatan ini. Namun begitulah indahnya rencana Allah, selalu saja menakjubkan. Saat itu aku masih sibuk mengemas berkas-berkas rekan-rekan lainnya, dan merampungkan amanah yang diberikan yakni menghubungi rekan-rekan yang belum rampung dalam pemberkasan. Di spasi waktu kusempatkan juga untuk mengamati riuh penantian di beberapa grup yang aku sendiri pun berada di dalamnya, bahkan juga sebagai adminnya. Aku sangat menikmati amanah itu. Yah, walaupun memang tak selalu menyemai dukungan, sebab manusia memang tak selamanya akan memihak pada kita. Apalagi waktu itu kondisinya sudah berada pada penantian panjang. Aku tak mampu menyebutkan itu pengujian kesabaran di tingkat berapa.
      Kesibukan mengurusi berkas dan mengurusi keperluan diri membuatku larut. Hingga suatu ketika muncul dokumen dalam bentuk PDF di grup. Lalu yang memposting mengucapkan kata-kata demikian "Selamat untuk teman-teman yang ikut ke Jakarta untuk Pelepasan GGD". Aku biasa saja responnya waktu itu. Kubiarkan dokumen itu di grup, belum kubuka, belum kubaca sama sekali. Selanjutnya bertambahlah ucapan selamat di grup. "Selamat untuk teman-teman yang ikut". Pernyataan itu kembali muncul, namun dengan menyebutkan beberapa nama dari Riau yang mendapat kesempatan. Dan dalam nama-nama yang mereka sebutkan termasuk namaku. Pelan dan tanpa tergopoh-gopoh aku membuka file itu. Bertumpuk nama di dalamnya, ada yang kukenal dan lebih banyak yang tak kukenali. Aku mencoba mencari namaku, mana tahu teman-temanku keliru. Nama yang tertulis namaku, namun sesungguhnya bukan diriku. Bisa jadi kan ya.
      Setelah kubaca, nama dan penempatan kabupatennya, benarlah adanya bahwa itu adalah aku, Juniar Sinaga. Responku tak berlebihan, sebatas lafaz syukur atas kesempatan yang ada. Sebab jauh sebelumnya, untuk bisa ikut dalam pelepasan ke Jakarta bukanlah ekspektasi terbesarku. Namun jika memang Allah berikan kesempatan, tentu tidak akan menolak bukan? Indah ya rencana Allah.

Fa inna ma'al usri usra
      Fix, aku ikut ke Jakarta untuk perwakilan GGD Anambas dalam pelepasan secara simbolis GGD 2016. Saat yang lain sibuk menanyakan apa-apa saja yang akan dibawa, aku justru kebingungan memikirkan tiket. Kondisi keuangan yang saat itu sedang minim tak memungkinkan untuk membooking tiket dalam waktu dekat. Sementara harga tiket biasanya tahu kan ya, semakin dekat semakin mahal. Ada beberapa kemungkinan yang harus dilakukan. Pertama, mengutang uang teman, lalu membayarkannya setelah nanti penggantian uang transportasi. Kedua, meminjam ke orang tua. Keduanya adalah pilihan yang amat berat. Meminjam uang dalam nominal jutaan, membuat badan merinding. Sebab belum pernah melakukan sebelumnya.
    Aku percaya bahwa rasa syukur senantiasa menghadirkan solusi. Allah tidak akan mungkin memberi kesempatan ini, lalu membiarkan kebingungan untuk mencari tiket menuju lokasi. Tenang, tenang dan tenang sembari mencari solusi. Perlahan aku mulai menanyakan ke teman-teman yang lain. Sementara ke keluarga sendiri aku tak menyampaikan sedikit pun hal mengenai tiket yang belum ada.Tentu alasannya sederhana, tak ingin merepotkan dan membebani. Tanggapan dari teman yang lain, "saya juga sedang minim uang bu Nur. Saya juga minjam jadinya". Begitulah jawaban yang kudapatkan. 
         Aku lupa pastinya, entah siang atau malam waktu itu. Aku mendapatkan whatsapp dari partner jauh. Motivator "pembunuh" yang beberapa kali mencoba membunuh ke-pesimis-anku. Beliau menanyakan tentang tiket, apakah sudah ada atau belum. Dalam hati menjawab "Belum". Balasanku menghadirkan solusi dari beliau. Mengarahkanku pada seseorang yang juga belum kukenali. Lika liku komunikasi pada orang yang pertama kali dijapri lantas memanggilku "pak". Aku diam dan tak membalas panggilan itu di saat yang bersamaan. Menenangkan diri lalu membalas "saya perempuan, Pak". Aku tidak tahu bagaimana ekspresi penerima sesaat setelah membaca klarifikasi itu. Sementara, hal yang kutanyakan padanya pun tak ada lagi. Habis!
        Selanjutnya apa yang kurasakan setelah itu? Bingung? Iya. Panik? Tentu tidak. Sebab ikhtiarku belum berakhir. Aku mencoba menghubungi partner bin kakak. Berlanjut pada pencarian solusi hingga berakhir pada "adanya" hasil akhir. Alhamdulillah. Ekspresiku setelah mendapatkan tiket, masih sama seperti sebelumnya. Datar dan melafazkan syukur untuk kesekian kalinya.

Keberangkatan dan Berpamitan
        Kegiatan kali ini sekaligus sebagai langkah awal menuju tempat penugasan. Walaupun kala itu belum ada informasi pemanggilan dari penempatan. Pemanggilan atau belum, tetap berangkat. Ini bukan pernyataan kepasrahan. Bukan juga nekat, melainkan satu pilihan yang harus dijalankan tanpa memikirkan konsekuensi nantinya. Hanya meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. InsyaAllah.
     Aku lupa tepatnya jam berapa sampai di lokasi, Jakarta. Setelah 'bersantai' beberapa jam di bandara, akhirnya kaki sampai juga di peraduan. Check in bersama rekan yang sama-sama berangkat dari satu tempat, hingga akhirnya berada pada satu bilik yang sama. Mengamati sudut-sudut latar, tak banyak yang kukenali. Suasana baru berubah saat kegiatan pembukaan berlangsung. Satu per satu bermunculan wajah-wajah lama di latar yang baru. Satu per satu bermunculan pula wajah yang sebelumnya belum pernah bersua namun sudah saling berkoordinasi.  Rasanya nano-nano. Saya sangat menikmati setiap kegiatan, tak terasa letih. Sementara bayangan penempatan tak kupikirkan. Lupakan sejenak.
Pemberangkatan Simbolis GGD 2016
Sumber: Dokumentasi penulis


Bersua dengan Pemilik Darah Basecare
     Tak banyak waktu bersama mereka. Sebab kegiatan yang terus sambung menyambung dan atas amanah yang terus bergulir. Raga berada di tempat ini namun jemari tetap tak henti mengabarkan di grup. Meminimalisir prasangka dan rasa resah dari jauh. Pertemuan dengan mereka pun selang seling. Entah itu saat sarapan pagi, juga di sela-sela waktu istirahat dalam kegiatan di ruangan. Puncak pertemuan sekaligus menjadi perpisahannya adalah setelah penutupan kegiatan. Berupaya menahan rasa segan dan malu sekedar ingin berfoto bersama. Kapan lagi bisa bertemu dan berkumpul dengan mereka jika tidak sekarang? Sementara perjumpaan untuk saling memotivasi menganyam cerita belum bisa dipastikan akan ada, sebab usia tetap menjadi rahasiaNya.

Bersama Masyarakat SM-3T Indonesia
Sumber: Dokumentasi penulis
Perjumpaan pertama, yang semoga bukan terakhir. Sebab masih banyak hal yang ingin disemai dari mereka. Tentang kesenyapan, tentang suluh dan segenap cerita lainnya. 
Kalian adalah aksara, yang telah menjadi bagian dari setiap anyamanku. Kalian adalah rasa, yang bisa beragam makna. Selamat menabung pahala di sudut-sudut negeri Indonesia. Salamku untuk anak-anak bangsa disana, semoga bersua di lain masa. InsyaAllah.

Anambas, 27 Januari 2018
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga- 

Sunday, December 24, 2017

Seperti Ikan-ikan di Lautan

Kolam Ikan
Sumber: Dokumentasi Penulis
Beragam lingkungan akan dan telah kita hadapi. Dan beragam pula keadaan yang akan kita temui. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yaitu terwarnai atau mewarnai. Kedua kemungkinan tersebut bisa saja terjadi pada diri kita. Terwarnai, saat kita tidak mampu bertahan, dan mewarnai saat kita mampu bertahan. Apakah ada yang salah jika kita terwarnai? Tidak. Tidak ada yang salah jika kita terwarnai, asalkan terwarnai oleh hal yang baik dan positif. Pun sebaliknya, apakah salah jika kita mewarnai? Sekali lagi, tidak ada yang salah, selagi kita mewarnai dengan hal yang baik dan positif.

Suatu waktu aku menatapi lautan. Memandangi ikan-ikan yang asyik berenang. Beragam jenis ikan yang kulihat. Aku merenung. Dari beberapa ikan yang hidup di lautan, belum pernah kutemui keasinan air laut itu meresap ke tubuh ikan. Saat disemai dari lautan, ikan itu tetap tawar. Ia tidak terpengaruh oleh keasinan air lautan. Bukan hanya keasinan laut yang ia hadapi, melinkan juga gelombang lautan yang silih berganti dan berbeda setiap bulan dan tahunnya.

Keasinan air lautan memang bukan diidentikkan menjadi sebuah keburukan. Hanya saja aku mengambil suatu pembelajaran, mendapatkan sebuah motivasi untuk tegar. "Jika ikan-ikan di lautan saja mendapat ujian gelombang lautan yang sedemikian rupa, bagaimana mana mungkin aku tidak," pikirku.
Selalu ada hal implisit yang kubaca. Dari ciptaanNya yang begitu luas, tak terhingga.

Semoga diri bisa mewarnai dengan kebaikan, kemaslahatan dan ke-positif-an, dan terwarnai kebaikan, kemaslahatan serta ke-positif-an juga. Istajib du'ana Ya Allah. Allahumma istajib.

Anambas, 25122017

Wa ila rabbika farghob
Keep Tawadhu
-Juniar Sinaga-

Tuesday, December 12, 2017

Problem Solver atau Problem Speaker

Berbagai permasalahan akan berdatangan tanpa harus kita minta, tanpa harus kita seru, ia akan datang dengan sendirinya. Hakikatnya, permasalahan adalah pen-dewasa bagi sasarannya. Dan sepemahaman saya, permasalahan bukan untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi. Jika permasalahan menghampiri, kita tidak diminta untuk melarikan diri darinya. Sebab sejauh apapun kita berlari dari masalah, itu tidak akan menghilangkan masalah, namun memperkeruh. Kala permalasahan bertengger, kita diminta untuk mencari sebuah solusi. 

Ada beberapa pilihan yang bisa kita tentukan pada sebuah kondisi, yakni kondisi saat permasalahan itu datang. Ada personal yang lebih tertarik membicarakan masalah itu, bahas sisi ini, sisi itu, namun tak memberikan solusi apapun. Tak berkenan mengambil peran sekecil apapun. Dia hanya berfokus membicarakan tanpa harus memberikan simpulan yang berarti di akhir. 
Pilihan kedua adalah tidak berbicara banyak tentang masalah itu. Tak membuang waktu untuk membahas sisi ini sisi itu, namun berfokus mencari sebuah solusi. 
Pilihan ketiga adalah membiacarakan masalah yang ada. Mencari penyebab masalah tersebut, selanjutnya mencari sebuah solusi atas masalah tersebut. Sehingga dia tidak berfokus hanya sebagai problem speaker, namun juga menjadi problem solver. Dia berupaya mengambil peran dan solusi guna menyelesaikan permalasahan yang ada. 

Sudah menjadi sebuah wacana yang klise, jangan hanya berfokus pada masalah, namun temukan solusi. Dalam konteks ini, yang lebih dekat adalah permasalahan sederhana yang menggerogoti kita saban harinya. Untuk ranah yang sedang kita tekuni saat ini, ini adalah refleksi diri bagi saya pribadi untuk menentukan pilihan selanjutnya. Mau menjadi problem speaker saja atau problem solver saja, atau keduanya. Itulah balik ke diri kita masing-masing. 

"Jika tidak bisa menyelesaikan sebuah masalah,setidaknya jangan memunculkan masalah yang baru"
  (Moh. Nuh) 

Alhamdulillahi 'ala kulli haal
Anambas, 13122017

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-

Wednesday, November 8, 2017

Narasi Malam

Kutatapi layar laptop yang malam ini sedang kurang sehat. Di jeda waktu itu pula kutatapi wajah-wajah rekan se-bait yang telah tertidur pulas. Sedari tadi, mataku pun telah merayu. Ingin menguncup sejenak melepas lelah dari pagi hingga petang tadi. Namun, lembaran-lembaran yang belum juga rampung membayangi. Detik demi detik terasa cepat berlalu. Sementara setiap tugas yang berbaris rapi dalam buku agenda belum juga rampung. Mungkin aku harus membuat perjanjian dengan mataku, bahwa ia tidak bisa meninggalkanku seorang diri.

Kembali kubuka lembaran-lembaran sumbing itu. Aku terhenti dan terus berikhtiar memahami. Sejak kemarin hingga pada penghujung oktober yang semakin dekat, perdamaian dengan waktu dan jasad ini seakan tidak satu frekuensi. Saat mata berhasil dimintai kompromi, justru waktu seakan cepat berlari. Jika sudah begitu, mungkin harus mengatur ulang semuanya.

Langkah ini belum usai. Masih banyak yang harus dirampungkan. Masih banyak yang harus diupayakan, direalisasikan. Biarlah doa dan ikhtiar membersamai diri, ditemani tawakkal yang takkan habis dikikis waktu. Semoga!


23.52 WIB
28102017

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
Juniar Sinaga

Tuesday, October 3, 2017

Membaca Latar dan Pelakonnya

Aku terus belajar membaca latar yang baru, juga pelakon yang bermukim di dalamnya. Sederetan karakter dan dialek yang berbeda belum rampung kupahami. Bukan hanya yang ditemui yang dibaca, bahkan kaki-kaki yang melangkah bersamaan di latar ini pun masih harus kubaca dengan seksama.

Di pintu pagi sering kutemui resah, namun wajahku tak sampai basah. Sebab simpuh di seba'da adzan subuh masih ada untuk penguatan. Pun punggung lantai masih ada untuk tempat bersimpuh. Beragam desah dan gelisah pun tak luput di ruang-ruang perkumpulan para pemilik karakter yang berbeda. Sementara aku hanya terus berpikir sembari memohon kelembutan hati. Apakah mungkin kita terus meng-ego-i, memikirkan kepentingan diri kita sendiri. Lalu setelah itu kita bernyanyi dengan nyaring tanpa memikirkan kepentingan lainnya. Apakah mungkin kita mengingkari, kata-kata kebersamaan sedari awal, lalu kita mementingkan keinginan diri sendiri, meninggalkan yang lainnya tertatih dan merintih. 

Dalam palungan bumi, akan selalu ada keadaan yang meminta kita untuk berusaha memahami, bukan sekedar mengerti, apalagi harus meng-ego-i. Dan dari keadaan itu pulalah kita akan belajar membangun kedewasaan diri dan belajar untuk mencari solusi. 


Candi, Kepulauan Anambas
03 Oktober 2017

Wa ila rabbika farhob
Keep tawadhu
Juniar Sinaga

Thursday, September 7, 2017

Sepasang Senyuman

Malam bukan jenaka, namun ada saja tawa yang terdampar di spasi kata. Bukan sesuatu yang disengaja, namun jemari mengejanya begitu saja. Kami bukan makhluk puitis tuan, hanya saja sedang belajar membaca makna implisit, yang ternyata begitu sulit.

Kata memang bukan senjata. Iya, senjata yang kutahu adalah doa. Namun, mereka bilang senjata penulis adalah kata. Apakah tuan seiya dengan mereka?

Kami terkesan bersinestesia. Renungkan saja, tangan seakan melihat. Padahal, ada sepasang mata yang jernih dicipta untuk mengamati sekeliling kita. Dan mata seakan merasa, padahal jelas indera pengecap, pun jelas telah dicipta. Semisal senyuman yang dibaca, lewat sepasang emoticon biasa. Bukankah ia juga telah dibaca oleh mata? Padahal seharusnya adalah dibaca lisan kita.


07 September 2017
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-







Papan tulis pandemi?

Saya lupa tahun berapa persisnya menempa papan tulis kecil ini. Namun yang jelas papan tulis kecil ini dibuat dengan jalan pikiran agar pas ...