Thursday, February 19, 2015

Pelosok

Saat Kabar Pulang itu datang
Oleh Juniar Sinaga

Terkadang saat perpisahan sudah tiba, seringkali aku berucap dalam hati "Bisakah aku menyukai pertemuan, namun membenci perpisahan?". Belum pernah kurasakan perpisahan tanpa kesedihan. Dan bahkan perpisahan seringkali senada dengan hadirnya air mata. Ya, itu merupakan suatu hal yang wajar. Karena saat adanya pertemuan,dan seiring berjalannya waktu, saat itulah tumbuh rasa kebersamaan dan saling menyayangi dan berusaha untuk saling mengerti. Itulah yang kurasakan dalam 6 bulan kemarin. Jika 1 tahun saja rasanya begitu singkat, apalagi dengan 6 bulan. Rasanya baru bulan sebelumnya bersama dengan mereka di tempat yang baru, tiba-tiba dapat kabar akan segera pulang. Hal itu membuatku dan 2 orang teman satu poskoku menangis saat itu. Aku terdiam di depan lemari, dan berurai air mata. Tak tahu berkata apa. Sesekali kutatapi perbukitan yang ada di hadapan posko. Bertambah sedih hati. "Besok tak kulihat lagi bukit ini. Besok tak kupandangi lagi awan secantik ini," pikirku. Teman satu poskoku hanya terdiam melihat tingkahku saat itu. Aku masuk ke dalam rumah, lalu keluar lagi. Saat itu aku benar-benar sedih. Kupandangi honai yang ada di sekeliling, tak ada kudengar suara anak-anak. Tak ada kulihat bayangan mereka. Mungkin besok seperti inilah rasanya tanpa melihat dan mendengar suara mereka," perasaanku.
***
Rasanya baru kemarin aku di tempat ini, dan sebentar lagi sudah harus kembali. Padahal masih banyak hal yang belum terselesaikan olehku. Banyak sekali yang kupikirkan saat itu. Belum lagi membayangkan wajah-wajah siswa-siswiku yang begitu senangnya saat melihat ruangan kelas mulai tampak berwarna warni dengan media dan juga merah putih yang kami telah mulai buat dari hari kemarin. Saat aku tiba-tiba akan pergi, apa ya kata mereka? Entahlah! Sedikit bisa kutebak, pasti mereka akan protes dan takkan senang. Dan tebakanku itu tak jauh meleset saat keeseokan harinya diumumkan dihadapan anak-anak. Berubah  suasana di pagi itu. Ada yang menangis. Saat itu, aku pura-pura tegar, padahal aku sudah menahan air mata. Sesekali mengalihkan kesedihan dengan jepret sana jepret sini. Sesekali kupandangi juga wajah mereka. Tumpalah air mataku. Aku bersembunyi di punggung teman,agar anak-anak tak melihatku menangis. Berlinanglah air mata di pagi itu.
Yunggame, masih saja kurindu...

Juniar Sinaga
SM-3T Angkatan III
Penempatan Kab. Lanny Jaya, Papua

Saturday, September 6, 2014

Mengabdi Untuk Negeri Bersama SM-3T

Inilah Diri, Dengan Kontribusi Mini

engkau mengajarkanku tentang sebuah kemanfaatan...
engkau berikan aku semangat untuk terus berkarya untuk negeri ini...
engkau didik aku untuk mendidik...
engkau ajar aku untuk mengajar...
engkau tempa aku untuk serba bisa,,,
Aku akan terus berupaya dan berusaha agar mampu
dan bisa memberikan yang terbaik untuk negeri ini


Walau lewat sebaris kata...
SM-3T, engkau tetap di hati
****

Sebelum melaju ke untaian kata berikutnya, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk SM-3T. Semoga semakin sukses dalam menyiapkan generasi pendidik yang handal, kreatif, inovatif dan berempati.Sejujurnya, aku sangat bangga bisa menjadi bagian dari SM-3T. Disinilah aku dididik untuk menjadi seorang yang pendidik yang harus serba bisa. Iya, saat tiba di tempat pengabdian kita tidak hanya berperan sebagai pendidik, pengajar. Namun juga sebagai tenaga medis, sebagai orang tua, dan lain sebagainya. Sungguh hal luar biasa. Namun tidak ada rasa menyesal apalagi ingin kembali sebelum pengabdian belum usai. Dalam situasi itulah dituntut untuk BISA!. Melalui SM-3T ini juga aku bisa mengenal anak-anak bangsa yang berada di Timur Indonesia. Mengenal masyarakatnya, mempelajari adat istiadatnya dan mempelajari bahasanya. Melalui SM-3T ini juga menjadi satu jembatan untukku berkontribusi untuk negeriku. Mengabdi bersama teman-teman lainnya untuk memberantas buta aksara dan mengajari mereka membaca, menulis dan berhitung. Setidaknya tiga dasar yang harus dimiliki sebelum masuk ke jenjang pendidikan berikutnya. Kedengarannya sepele memang, namun dampaknya sangat besar untuk masa depan. Dan SM-3T yang mengantarkanku ke tempat tersebut. Tempat yang sangat membutuhkan pembaharuan dan pemberantasan terhadap kebutaan-kebutaan itu. Tempat dimana anak-anak bangsa merindukan para pendidik yang bisa mengarahkan mereka, menyemangati mereka, mengajar mereka dengan kasih sayang, menjadi teman bermain mereka, menjadi keluarga bagi mereka.

Ah! sedih aku jadinya. Karena saat kurangkai tulisan ini, terbayang olehku wajah-wajah siswa/siswiku yang telah menjadi pelangi dalam hatiku. Siswa-siswi yang menjadi motivator bagiku. Siswa-siswi yang membuatku semakin bersyukur. Siswa-siswi yang membuatku begitu berharga. Semua itu karena SM-3T. Di hari ulang tahun SM-3T hari ini, aku berharap program ini tetap berlanjut, agar para anak-anak bangsa yang belum terjangkau mendapat kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Sehingga semua kebutaan-kebutaan yang ada berangsur membaik. Kalau bukan kita yang mengobati kebutaan itu, siapa lagi? Selamat Ulang Tahun SM-3T. Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia!!!


@Ruang Kerinduan, 06 September 2014
Juniar Sinaga_SM-3T LPTK Univerasitas Riau
Angkatan III@Lanny Jaya, Papua.. 

Thursday, March 21, 2013

JEJAK LANGKAH


Lafaz Basmalah Mengawali Langkah Kita

Terik yang menyengat tubuh kita seolah tiada terasa karena Allah masih menghadirkan desiran angin di tengah sengatan itu. Kita menyambut siang itu dengan senyuman, walau kita tahu bahwa hari ini  petualangan akan berlanjut, namun satu kerutan letih pun tampak.

Roda kereta tua mulai berputar saat mesin telah menyapa dengan derunya. Beriring namun tak satu baris, petualangan kita pun bermula. Aku merasakan sesuatu yang berbeda hari ini, karena memang hari ini bukan hari Kamis yang biasa. Hari ini adalah kelanjutan dari petualanganku yang kemarin. Dan hari ini petualangan itu berlanjut bersamamu ukhti. Ah! Aku hanya mampu tersenyum sepanjang perjalanan. Terkadang aku tertawa. Ya, aku tertawa melihat petualangan kita. Rasanya kita bagai musafir yang memasuki perkampungan baru yang sama sekali belum pernah kita jelajahi.

Bola mata kita berputar-putar bagai kelereng yang sedang menggelinding. Melirik ke arah kanan-kiri pada setiap sisi jalan. Satu yang harapan kita siang itu, yakni menemukan rumah Allah (baca: masjid) yang akan menjadi sasaran tempat berlabuhnya selembar kertas yang telah kita hiasi dengan sederet bahasa undangan dan ajakan agar para jamaah kiranya berkenan hadir dalam Majelis kita.  Warna hijau daun itu menghiasi kertas yang telah kita sematkan di kereta tua.

Letih tak berpihak pada kita hari ini. Walau perjalanan telah terlampaui beberapa meter, dan menempuh jalan bebatuan. JJJ. Alhamdulillah dalam tengkorongan yang terasa kering, kita masih sanggup tersenyum. Mungkin inilah kekuatan yang kita dapatkan karena mengawali langkah kita dengan lafaz yang begitu indah “BASMALAH”

Masjid NAMIRA Menjadi Saksi Dzikir Kita
Perjalanan kita masih panjang. Namun sujud kita tak semestinya terlalaikan. Di tengah jejak langkah kita, kumandang adzan memanggil kita. Masjid NAMIRA menjadi saksi dzikir kita senja itu.

Akhirnya Kita Menemukan Sasaran
Lama kita mengeja langkah. Menyusuri jalan hitam yang penuh deru kendaraan dengan sapaan debu jalanan. Tanpa terasa jejak kita hampir berakhir. Sasaran yang kita cari akhirnya ditemui, walau sedikit ada kekecewaan. Tapi, Alhamdulillah Sasaran Kita temukan juga.


Segelas Cocos Nucifera  Pelepas Dahaga

Saat kereta tua kita berlabuh di SPBU, tenggorokan pun terasa kering. Ternyata tak hanya si kereta tua yang kehausan, namun pengendaranya juga. Berputar-putar di areal tempat jual beli minum, Cocos Nucifera  akhirnya jadi pelepas dahaga kita...
segerrr!


Pelita Merah Memisahkan Kita

Kemacetan menghiasi langkah kita saat akan kembali ke peraduan. Pelita hijau tak terkejar, hingga menguji kesabaran kita untuk menunggu. Kita harus menanti pelita hijau karena pelita merah menghadang kita. Situasi itu memisahkan kita. Pelita merah terlalu lama menghadang, hingga akhirnya memisahkan kita. 

Itulah jejak kita hari ini Ukhti....

21 Maret 2013


Nurjannah*

Papan tulis pandemi?

Saya lupa tahun berapa persisnya menempa papan tulis kecil ini. Namun yang jelas papan tulis kecil ini dibuat dengan jalan pikiran agar pas ...