Thursday, March 21, 2013

JEJAK LANGKAH


Lafaz Basmalah Mengawali Langkah Kita

Terik yang menyengat tubuh kita seolah tiada terasa karena Allah masih menghadirkan desiran angin di tengah sengatan itu. Kita menyambut siang itu dengan senyuman, walau kita tahu bahwa hari ini  petualangan akan berlanjut, namun satu kerutan letih pun tampak.

Roda kereta tua mulai berputar saat mesin telah menyapa dengan derunya. Beriring namun tak satu baris, petualangan kita pun bermula. Aku merasakan sesuatu yang berbeda hari ini, karena memang hari ini bukan hari Kamis yang biasa. Hari ini adalah kelanjutan dari petualanganku yang kemarin. Dan hari ini petualangan itu berlanjut bersamamu ukhti. Ah! Aku hanya mampu tersenyum sepanjang perjalanan. Terkadang aku tertawa. Ya, aku tertawa melihat petualangan kita. Rasanya kita bagai musafir yang memasuki perkampungan baru yang sama sekali belum pernah kita jelajahi.

Bola mata kita berputar-putar bagai kelereng yang sedang menggelinding. Melirik ke arah kanan-kiri pada setiap sisi jalan. Satu yang harapan kita siang itu, yakni menemukan rumah Allah (baca: masjid) yang akan menjadi sasaran tempat berlabuhnya selembar kertas yang telah kita hiasi dengan sederet bahasa undangan dan ajakan agar para jamaah kiranya berkenan hadir dalam Majelis kita.  Warna hijau daun itu menghiasi kertas yang telah kita sematkan di kereta tua.

Letih tak berpihak pada kita hari ini. Walau perjalanan telah terlampaui beberapa meter, dan menempuh jalan bebatuan. JJJ. Alhamdulillah dalam tengkorongan yang terasa kering, kita masih sanggup tersenyum. Mungkin inilah kekuatan yang kita dapatkan karena mengawali langkah kita dengan lafaz yang begitu indah “BASMALAH”

Masjid NAMIRA Menjadi Saksi Dzikir Kita
Perjalanan kita masih panjang. Namun sujud kita tak semestinya terlalaikan. Di tengah jejak langkah kita, kumandang adzan memanggil kita. Masjid NAMIRA menjadi saksi dzikir kita senja itu.

Akhirnya Kita Menemukan Sasaran
Lama kita mengeja langkah. Menyusuri jalan hitam yang penuh deru kendaraan dengan sapaan debu jalanan. Tanpa terasa jejak kita hampir berakhir. Sasaran yang kita cari akhirnya ditemui, walau sedikit ada kekecewaan. Tapi, Alhamdulillah Sasaran Kita temukan juga.


Segelas Cocos Nucifera  Pelepas Dahaga

Saat kereta tua kita berlabuh di SPBU, tenggorokan pun terasa kering. Ternyata tak hanya si kereta tua yang kehausan, namun pengendaranya juga. Berputar-putar di areal tempat jual beli minum, Cocos Nucifera  akhirnya jadi pelepas dahaga kita...
segerrr!


Pelita Merah Memisahkan Kita

Kemacetan menghiasi langkah kita saat akan kembali ke peraduan. Pelita hijau tak terkejar, hingga menguji kesabaran kita untuk menunggu. Kita harus menanti pelita hijau karena pelita merah menghadang kita. Situasi itu memisahkan kita. Pelita merah terlalu lama menghadang, hingga akhirnya memisahkan kita. 

Itulah jejak kita hari ini Ukhti....

21 Maret 2013


Nurjannah*

No comments:

Papan tulis pandemi?

Saya lupa tahun berapa persisnya menempa papan tulis kecil ini. Namun yang jelas papan tulis kecil ini dibuat dengan jalan pikiran agar pas ...