Monday, August 21, 2017

Catatan

Penantian adalah Ujian: Nasihat untuk diri

Riuh tawa para jamaah menambah keramaian pagi itu. Saat sesi tanya jawab berlangsung, pemateri membacakan sebuah pertanyaan yang diketik rapi dalam kertas putih. 
"Ustad, saya ingin menikah. Selama 4 tahun saya menunggu seorang perempuan tanpa komunikasi. Dan setelah menyampaikan ke orang tua, mereka telah setuju. Namun ternyata, sebelum saya melamarnya, saya mendapatkan kabar kalau dia telah menerima pinangan dari seorang laki-laki. Berikan saya nasihat ustad, agar saya bisa melupakannya". 
Saat riuh masih belum sirna, terdengar suara para perempuan yang duduk di sampingku. "Wah,kasihan dia ya". "dia menunggu, ternyata mau melamar, ditikung". "dia sih salah, menunggu tidak memberitahu sama sekali. Mungkin perempuan itu memang tidak tahu sama sekali kalau ada yang menungguinya," Itu beberapa respon mereka. Sementara aku hanya terdiam dan menyimak.

Pemateri tidak memberikan jawaban secara langsung. Namun memberikan sebuah analogi lewat kisah Nabi Ayub yang diuji dengan penyakit dalam kurun waktu yang sangat lama. Selama 20 tahun beliau diuji dengan penyakit. Ditambah lagi dengan ujian lewat kematian anak-anaknya. Semua ujian itu beliau jalani tanpa mengeluh. Pemateri memaparkan kisahnya dengan begitu indah. Aku menyimak sambil sesekali mengernyitkan kening. "Beliau diuji selama 20 tahun. Lah, anda masih diuji selama 4 tahun menunggu. Jangan putus asa. Lakukan aktivitas yang positif," ujar beliau.

"Jauh sebelum kita lahir, semua telah ditetapkan oleh Allah, termasuk perkara jodoh. Namun jodoh itu bisa kita ikhtiarkan dengan cara yang Allah ridhoi," pemaparan beliau semakin lama semakin teduh.  Anda menunggunya selama 4 tahun, tanpa kabar dan informasi sama sekali, itu bukan salahnya dia. Tapi sekarang, bukan itu yang harus dipikirkan. Jangan karena itu anda jadi tak bergerak. Lakukan terus ikhtiar dan perbaikan diri. InsyaAllah nanti Allah hadirkan yang lebih baik untuk anda. Beliau memaparkan begitu detail.

Seperti sebuah renungan pagi itu. Iya, penantian itu adalah sebuah ujian, yang dalam konteks ini adalah jodoh. Bisa jadi Allah belum menghadirkan jodoh kita dikarenakan kita belum siap untuk itu. Bisa jadi kita sudah merasa siap dari segi penilaian kita pribadi, namun belum tentu menurut Allah. Allah akan mengabulkan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Teruslah bersabar dalam penantian karena Allah.
Dengan berupaya melakukan hal-hal positif. Ahmad rif'ai rif'an menyampaikan dalam sebuah bukunya, bahwa sebaik-baik penantian adalah penantian yang produktif, diantaranya memperbaiki diri, menggali potensi, dan terus mendekatkan diri pada Allah. 

Semoga aku, kamu, dan kita semua Allah istiqomahkan dalam penantian indah menuju penyempurnaan itu, kelak. 

Rabbana 'alaika tawakkalna
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-

Friday, August 18, 2017

Catatan

Me(nanti) Untuk Pergi

Sederetan tanya yang sedari kemarin bertengger, perlahan mulai terbang. Saat detik demi detik penuh dengan tanya, aku lebih memilih menyeduh penantian dengan berbagai rupa yang rahasia. Cukup aku, Allah dan malaikat mengetahui, tentang bagaimana aku mengemas penantian itu. Membersamai pagi siang hingga mengunci malam dengan doa-doa yang dirangkai sedemikian rupa dan penuh kehati-hatian. Sebab aku tak ingin membuatNya murka, mendahului ketetapanNya. Cukup engkau nikmati sisa-sisa penantian ini, begitu kira-kira makna penantian yang tersirat.

Sederetan tangan yang bicara, perlahan membisu. Bungkam dalam kesibukan satu per satu. Sementara aku terus mengamati dan larut dalam renungan yang tak rampung. Mengabadikan kata dalam rupa yang lama namun baru bisa direalisasikan. 

Akan ada pe(nanti)an yang akan meminta kita untuk pergi, dan tidak tahu pasti kapan kembali. Sebab masa yang telah ditetapkan seakan meminta kita untuk berdiam lama. Meminta kita untuk menabung rasa, rindu dan melanjutkan anyaman asa yang kemarin.

Biarlah ke(pergi)an kita menjadi ketetapanNya. Nikmati masa yang tersisa, sebab nanti setelah disana takkan mudah untuk berlabuh di tanah yang kita tempati, kini. 


Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu

Ruas Malam, 18-08-2017




Tuesday, August 8, 2017

Puisi

Tentang Rindu
Oleh: Juniar Sinaga

Embun tersandung, terjatuh diantara ranting ranting doa
pun titip titip rindu telah sampai padaNYA
lewat deraian rasa dalam doa yang termaktub pada rakaat rakat pagi siang hingga petang

Bongkahan asa mencair disirami kelegaan
saat semua sampai padaNYA
kutitipkan mereka padaMU, dalam rakaat bersimbah rindu
Pekanbaru, 08 Agustus 2017

Thursday, December 15, 2016

Pelosok

Kabar dari 'Pelosok'
Oleh: Juniar Sinaga

Aku sedang asyik mengutak-atik laptop. Seketika hapeku yang sulung bernyanyi. Tak kulihat nama penelepon yang terpampang di layar hape. "Mungkin ini teman yang ingin bertanya" aku mempositifkan pikiran. Apa yang kupikirkan ternyata salah. Sapaan dari seberang tak kukenali lagi. Suaranya berbeda, berubah. Ia adalah Formina. Siswa yang dulu belajar bersamaku sewaktu ia masih SMP. 

Bercengkerama dan bernostalgia sejenak. Tahun lalu aku meninggalkannya masih SMP. Sekarang dia sudah melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu SMA. Senang mendengarnya melanjutkan sekolah. Ia berkabar bahwa mamanya sehat. Akan tetapi ayahnya sedang kurang sehat. "Sakit seluruh badan" tuturnya ketika aku bertanya.  

Setiap kali mendapat telefon dari seberang, aku tak pernah lupa menanyakan kabar sekolah. Begitu pun malam ini. 
"Sekolah kita bagaimana kabarnya?" pembicaraan kami hampir berakhir. 
"Anak-anak tidak ada ke sekolah ibu guru. Guru tidak ada" suaranya terputus-putus. 
Aku tidak begitu kaget mendengarnya. Namun bukan berarti senang. Berulangkali aku mendengar cerita ini. Setiap kali mereka berkabar, berita ini seakan menjadi bagian dari kabarnya. 
Tak banyak solusi yang bisa kuberikan padanya malam ini. Aku hanya mengajaknya berdoa, semoga sekolahnya lancar dan sukses.

"Ibu guru baik-baik ya" pesannya di penghujung komunikasi. Aku tersenyum mendengarnya.
"Formina juga baik-baik ya" aku mengopy pesannya. 
"Saling mendoakan ya. Ibu guru doakan Formina. Sebaliknya juga ya" ujarku.
"Iya ibu guru. Saya pernah mendoakan ibu guru" kudengar tawanya di seberang.

Pelosok, kabarmu selalu kunanti. Sebab kabar darimu memintaku untuk membuka pikiran. Mendengar tentangmu, memaksaku untuk memotivasi diri.

Tulisan ini, tentang percakapanku dengan Formina. Siswaku yang saat ini di Yunggame, Papua.

Pekanbaru, 15 Desember 2016
21.40 wib

Wednesday, September 28, 2016


Lelaki Beransel Hitam

Oleh Juniar Sinaga

Matahari siang seakan marah pada pemijak bumi. Panasnya nyaris membakar kulit bagi siapa saja yang tak menutup tubuhnya. Aku yang sedang kebingungan mencari tempat parkir pun ikut merasakan panasnya. Aku menoleh kiri kanan tempat parkiran, mencari lokasi yang tepat dan nyaman. Lama aku mencari, maju mundur. Pada akhirnya aku harus merelakan diri untuk parkir di sudut kampus. 

Dari jarak yang tidak begitu jauh, aku menghampiri tempat sasaran. Saat itu Mitha hendak menghidupkan motornya, ia ingin keluar dari parkiran. "Masuk aja dulu", ucapnya. Aku hanya tersenyum sembari memutar arah kendaraan. Aku butuh beberapa menit untuk memposisikan motor. Tata letak yang kurang rapi memang menjadi salah satu kendalanya. Jika ingin menggesernya, aku tak cukup kuat. Tidak beberapa lama, seorang laki-laki beransel bergerak mengambil bagian. Aku tidak sadar kalau laki-laki itu sudah sedari tadi mengantri di belakangku. Ia meminta temannya untuk mundur dahulu, agar ia bisa memindahkan letak motor yang menghambatku untuk parkir. Ia begitu lihai. Seolah itu menjadi tugas dia, padahal aku tahu ia hanya seorang mahasiswa. 

Aku memposisikan motor di tempat parkir. Membereskan helm dan kawan-kawannya. Selang beberapa menit, aku melihat seorang wanita hendak ingin parkir juga. Kendalanya hampir sama seperti yang aku alami beberapa menit yang lalu. Lagi-lagi, dengan sigap laki-laki beransel hitam itu kembali bergerak mencari kendaraan yang bisa dirapikan agar wanita itu mendapatkan tempat parkir. Ah! "Sulit untuk menemukan orang-orang yang ikhlas sepeti ini", pikirku. 

Kutinggalkan tempat parkir dengan sedalam syukur. Berharap esoknya aku adalah orang yang bisa menggantikan peran laki-laki itu di tempat yang berbeda dan dengan cara yang berbeda, memudahkan kesulitan orang lain. "Saat kita membantu orang yang kesulitan, maka Allah juga akan membantu kita". 

Bumi Allah, 28 September 2016
20.53 wib

Saturday, April 2, 2016

Pelosok


Cerita Yang Takkan Habis


Kali ini bahasa penyampaianku tidak akan penuh dengan diksi. Sengaja.
Perkenalkan, namaku Juniar Sinaga. Kata kebanyakan orang, namaku persis nama laki-laki. Hingga terkadang dipanggil bang. Geli sendiri mendengar panggilan itu. Tapi dari lahir aku memang perempuan kok. Beneran.
Aku adalah salah satu alumni SM-3T angkatan III. Tahun 2013 lalu aku ditempatkan di Provinsi Papua tepatnya di Kabupaten Lanny Jaya. Tempatku bertugas namanya distrik Niname. Baiklah, disini aku akan berbagi cerita dengan kalian. Semua kisah yang aku jalani belum bisa dijadikan buku, jadi sementara ini, aku bagikan di blog ini dulu.

Sekolah Panggung
SD YPPGI Dome menjadi saksi pengabdianku. Sekolah ini bagus. Bangunannya masih kokoh. Bagiku sekolah ini unik, dan aku menamainya "Sekolah Panggung". Sekolah ini memang tidak semewah gedung di perkotaan. Namun pemandangan indah di belakang sekolah ini senantiasa membuat hati takkan bosan. Udara yang sejuk juga menjadi teman sehari-hari. Biar kutunjukkan gambarnya, agar kalian bisa melihat bahwa keindahan inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuatku betah disini selama masa pengabdian. 


Coba lihat, indah bukan? Dari tempatku tinggal, setiap paginya aku bisa melihat anak-anak yang turun dari bukit menuju sekolah. Aku bisa melihat mereka yang sedang asyik bermain kelereng di atas bukit. Aku bisa mendengar suara mereka di atas bukit. Aku bisa melambai-lambai pada mereka. Yah, walaupun tak tampak jelas oleh mereka. 
Tempat ini juga strategis. Jadi, dari pagi, siang hingga petang aku bisa melihat masyarakat berjalan melalui jalan yang ada di depan rumah. Jalan ini memang belum rata semasa aku disana. Mudah-mudah sekarang sudah lebih baik. Aku bisa menyapa masyarakat yang lalu lalang. Misalnya ada mama-mama yang berjalan menuju kota, kita akan saling bertegur sapa. Disini budaya saling bertegur sapanya, tinggi. Walau hanya sekedar "Selamat pagi/selamat sore/selamat pagi. Setiap bertemu pasti akan saling menegur. Jadi jangan heran, kalau satu waktu nanti kesana, akan dapat sapaan juga salam. Mama disini tangguh, itu menurutku. Sepertinya mereka tidak pernah mengenal kata tidur siang. Pagi sudah ke kebun menggali ubi dan sore baru kembali. Ubi itu untuk stok esok harinya. Pagi harinya mereka akan membakar ubi sebagai sarapan pagi, termasuk untuk anak-anak yang akan berangkat ke sekolah. Berikut saya tunjukkan fotonya ya. Biar bisa lihat dengan jelas.

Tuh benar kan? Sekilas dilihat memang biasa saja. Namun bagiku, disini banyak makna kehidupan. Pokoknya banyak makna kehidupan disini. Aku malah berpikir bahwa aku ini belum bersyukur. Tentang kerendahan hati. Tentang menyayangi orang lain yang mungkin belum ada apa-apanya dibanding mereka yang memiliki ketulusan hati dan kesabaran yang lebih. Dan gelar bukanlah satu-satunya indikator untuk mengukur ketulusan hati kita. Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa rendah hati, walau sebanyak apapun ilmu kita, setinggi apapun jabatan kita serta sebanyak apapun harta yang kita miliki. Sebab dunia bukan kekekalan, namun persinggahan.

Juniar Sinaga

Thursday, February 19, 2015

Pelosok

Saat Kabar Pulang itu datang
Oleh Juniar Sinaga

Terkadang saat perpisahan sudah tiba, seringkali aku berucap dalam hati "Bisakah aku menyukai pertemuan, namun membenci perpisahan?". Belum pernah kurasakan perpisahan tanpa kesedihan. Dan bahkan perpisahan seringkali senada dengan hadirnya air mata. Ya, itu merupakan suatu hal yang wajar. Karena saat adanya pertemuan,dan seiring berjalannya waktu, saat itulah tumbuh rasa kebersamaan dan saling menyayangi dan berusaha untuk saling mengerti. Itulah yang kurasakan dalam 6 bulan kemarin. Jika 1 tahun saja rasanya begitu singkat, apalagi dengan 6 bulan. Rasanya baru bulan sebelumnya bersama dengan mereka di tempat yang baru, tiba-tiba dapat kabar akan segera pulang. Hal itu membuatku dan 2 orang teman satu poskoku menangis saat itu. Aku terdiam di depan lemari, dan berurai air mata. Tak tahu berkata apa. Sesekali kutatapi perbukitan yang ada di hadapan posko. Bertambah sedih hati. "Besok tak kulihat lagi bukit ini. Besok tak kupandangi lagi awan secantik ini," pikirku. Teman satu poskoku hanya terdiam melihat tingkahku saat itu. Aku masuk ke dalam rumah, lalu keluar lagi. Saat itu aku benar-benar sedih. Kupandangi honai yang ada di sekeliling, tak ada kudengar suara anak-anak. Tak ada kulihat bayangan mereka. Mungkin besok seperti inilah rasanya tanpa melihat dan mendengar suara mereka," perasaanku.
***
Rasanya baru kemarin aku di tempat ini, dan sebentar lagi sudah harus kembali. Padahal masih banyak hal yang belum terselesaikan olehku. Banyak sekali yang kupikirkan saat itu. Belum lagi membayangkan wajah-wajah siswa-siswiku yang begitu senangnya saat melihat ruangan kelas mulai tampak berwarna warni dengan media dan juga merah putih yang kami telah mulai buat dari hari kemarin. Saat aku tiba-tiba akan pergi, apa ya kata mereka? Entahlah! Sedikit bisa kutebak, pasti mereka akan protes dan takkan senang. Dan tebakanku itu tak jauh meleset saat keeseokan harinya diumumkan dihadapan anak-anak. Berubah  suasana di pagi itu. Ada yang menangis. Saat itu, aku pura-pura tegar, padahal aku sudah menahan air mata. Sesekali mengalihkan kesedihan dengan jepret sana jepret sini. Sesekali kupandangi juga wajah mereka. Tumpalah air mataku. Aku bersembunyi di punggung teman,agar anak-anak tak melihatku menangis. Berlinanglah air mata di pagi itu.
Yunggame, masih saja kurindu...

Juniar Sinaga
SM-3T Angkatan III
Penempatan Kab. Lanny Jaya, Papua

Papan tulis pandemi?

Saya lupa tahun berapa persisnya menempa papan tulis kecil ini. Namun yang jelas papan tulis kecil ini dibuat dengan jalan pikiran agar pas ...