Sunday, August 2, 2020

Papan tulis pandemi?




Saya lupa tahun berapa persisnya menempa papan tulis kecil ini. Namun yang jelas papan tulis kecil ini dibuat dengan jalan pikiran agar pas pergi 'melapak', bisa dimanfaatkan untuk mengajar anak-anak. Jadi pas sebagian anak-anak sedang membaca buku, sebagiannya lagi belajar, entah itu berhitung ataupun menuliskan huruf di papan tulis itu.

'Melapak' bukan tugas utama saya. Dilakoni di luar tugas wajib yang dilakukan sehari-hari. Namun kegiatan itu menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan anak-anak dengan buku. Jika saya ditanya, sudahkah tampak manfaatnya? Jawabannya belum. Karena zaman sekarang gawai memang lebih menarik dibandingkan buku. Akan tetapi ini bukan generalisasi. Ada orang yang candu dengan buku, namun bukan berarti tak menggunakan gawai. Ia masih dapat mengontrol diri dalam menggunakan gawai. Nah, kalau anak-anak yang biasa datang di lapak yang pernah dilakukan, itu didominasi jenjang sekolah dasar. Itulah mungkin salah satu alasan mengapa dampaknya belum terlihat begitu tampak. Pengontrolan dalam menggunakan gawai belum maksimal bagi beberapa yang memilikinya.
Namun dengan upaya di atas, setidaknya tidak 'alergi' dengan buku cerita. Jadi, kehadiran papan tulis ini awalnya dibuat memang ingin membersamai kegiatan melapak. Jadi yang mau membaca tetap membaca, yang mau belajar pun lanjut.

Realitanya, papan tulis ini malah dimanfaatkan pada masa pandemi. Digunakan saat anak-anak harus belajar di rumah. Apakah membantu? Iya. Terkadang, kita mencari sesuatu, bukan berarti saat itu juga sesuatu itu dibutuhkan. Namun beberapa waktu setelahnya. Misalnya saat dulu kita kuliah. Ilmu-ilmu yang kita pelajari, mengikuti berbagai kegiatan, kita ikut tholabul ilmu, semuanya bukan saat itu kita perlukan. Namun beberapa masa sebakdanya. Tentu yang saya maksud disini adalah yang berkaitan dengan kepositifan dan kemaslahatan.

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-

Ibu beranak (melahirkan) ya?

Kegiatan Belajar di rumah masa pandemi covid-19 

    Pandemi covid-19 yang belum berakhir mengharuskan anak-anak masih harus belajar di rumah. Belum diperbolehkan untuk hadir di sekolah karena surat edaran menyampaikan demikian.
    Salah satu yang membuat dilema adalah jika harus memberikan tugas secara langsung sementara mereka baru naik kelas. Maka, mau tak mau harus membuat pertemuan dulu sebelum penugasan. Tentu dilakukan setelah memberikan surat pemberitahuan ke orang tua dan dikomunikasikan dengan Kepala Sekolah dan Guru. Jumlah yang lebih ramai dari sebelumnya mengharuskan mereka dibagi menjadi beberapa kelompok. Jadwal yang diselang seling menyesuaikan kondisi fisik juga. Hari ini adalah jadwal kelompok kedua. Pengalaman dari kelompok pertama, tak pernah pas jumlahnya, pasti berlebih. Karena ada aja temannya yang ikut, padahal bukan jadwalnya. Saat temannya belajar, dia pun disuruh baca buku cerita aja, daripada harus disuruh pulang sendirian kan.
.
.
Di tengah waktu belajar, seorang anak bertanya "Bu, esok kita raya ya?"
Saya pun jawab singkat "ya".
Anak yang lain pun bertanya lagi "Ibu beranak ya?" Tadinya kukira dia bertanya "Ibu berangkat ya?"
Ternyata aku salah dengar. Untuk memastikan sebelum menjawab, aku pun bertanya ulang. Ternyata dia bertanya "Ibu beranak ya?"
Aku tersenyum sembari bertanya ulang "siapa yang bilang?"
"Tadi kami nampak perut Ibu besar," jawabnya.
Barangkali mereka bertanya karena di pertengahan waktu belajar itu aku mengelus-elus perut. Maklum, si dedek di dalam asyik bergerak 😅. Supaya si dedek agak tenang, maka dielus-elus. Elusan itu menghadirkan tanya dari anak-anak 😁😅.
.
.
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-

Thursday, February 20, 2020

Bertemu Tere Liye

Momen dan Impresi



Impresi
 Oktober 2019 yang lalu menjadi sebuah momen yang takkan terlupakan sepanjang perjalanan. Kesempatan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Lewat lingkaran cinta, mendapatkan kesempatan tersebut. Walau awalnya terasa berat, sebab amanah itu mengharuskan diri untuk menyeberangi lautan di spasi waktu. Jumlah yang sedikit, akses informasi dan transportasi yang tak begitu padu, adalah tantangan yang pada akhirnya dilewati karena kesatuan dan kebersamaan.

Membagi waktu dari jarak yang tak jauh, namun juga tidak dekat. Mengamati musim dan kondisi. Saling berkomunikasi walau rasanya segan.
Menikmati ombak dan angin kencang saat akan menghantarkan Tere Liye menuju lokasi kegiatan. Tak terpikirkan lagi ombak, walau jantung berdegup-degup. Sesekali tertawa mengamati celoteh dari Tere Liye dan tim kala itu. Rasa lelah itu sirna dengan sendirinya. Bukan tentang kita yang dipikirkan saat itu, namun tentang kemaslahatan dan kebermanfaatan kegiatan untuk orang banyak. Banyak dalam keterbatan potensi diri, teringin menghadirkan kontribusi. Melalui lingkaran cinta, satu kontribusi bersama tunai. 


Kesempatan yang menjadi impresi
Keantusiasan peserta yang hadir membayar semua kesulitan dan energi yang terpakai. Sebab kita melakukan ini bukan mengharapkan imbalan. Hanya saja yakin bahwa segenap yang dilakukan ini bernilai ibadah. Berharap lewat kegiatan tersebut mampu menghadirkan bibit-bibit penulis yang barangkali sebelumnya belum muncul ke permukaan. Walau diri sendiri masih harus terus belajar untuk itu. Aku teringat dengan nasihat guruku bahwa "Nilai kita bukan pada apa yang kita miliki, tetapi pada apa yang kita beri". Nasihat ini menjadi sebuah energi untuk melakukan kepositifan yang dapat dilakukan. 



Aku juga belajar banyak dari Tere Liye yang luar biasa. Karya-karyanya Maa Sya Allah, namun tampilannya sederhana. Aku sendiri pangling saat menjemput di bandara, dengan kaos sederhana dan sandal jepitnya. Salah satu pernyataan menggugah juga terlontar dari Tere Liye saat memberikan materi kepada peserta. "Bagi saya, pakaian terbaik adalah pakaian saat menghadap Tuhan". 
Bagaiman tidak terkesima. Sebuah quotes yang bagus dan menggugah. Sukses terus Bang Tere. Semoga suatu waktu karyaku bisa demikian. Aamiiin Allahumma Istajib. 


Anambas, 21 Februari 2020
11.05 wib
Keep Tawadhu
Juniar Sinaga

Saturday, December 29, 2018

Perjalanan Yang Tak Biasa

Bandara Sultan Hasanuddin Makassar
Setiap perjalanan memberikan makna tersendiri bagi tuannya. Demikian jugalah yang aku rasakan. Sejak tahun 2014 aku berkeinginan dapat menjejaki Sulawesi. Satu dari sekian pulau besar di Indonesia. Akan tetapi, seapik apapun kita merencanakan sesuatu, ketetapan itu hanyalah milikNya.
Sejak niatan itu pula aku terus berupaya. Menabung keinginan lewat ikhtiar yang berspasi. Memadukan keyakinan dan ikhtiar, lalu digenapi dengan doa. Hingga akhirnya pemilik semesta mengabulkannya. 
Perjalanan yang cukup jauh, namun bersyukur karena jasadku tak 'rewel' seperti biasanya. Padahal biasanya itu, membayangkan jarak saja sudah sakit kepala, pusing duluan. Alhamdulillah untuk perjalanan ini jasad dapat diajak berkompromi. Melampaui daratan, udara hingga sampailah di tujuan. Maa Sya Allah walhamdulillah, bersyukur dapat menjejaki pulau Sulawesi. Sebelumnya hanya mampir sejenak karena transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju latar berikutnya. Dan kali ini, bukan sejenak dan bukan transit, melainkan berkesempatan beberapa waktu.
Bandara Sultan Hasanuddin Makassar
Berkabar dan saling berjanji untuk menjenguk Rahman yang sedang sakit. Daftar yang jauh sebelumnya tak pernah terpikirkan. Namun itulah ketetapanNya, tak dapat dihindari. Seperti yang aku goreskan sebelumnya di http://ju-si.blogspot.com/2018/12/ia-yang-kuakrabi-dengan-sapaan-man.html. Rahman yang beberapa waktu sebelumnya kutemui di Palembang dalam sebuah kegiatan, hari itu jauh berbeda kondisinya. Dan lagi, aku tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebab beberapa hari sebelumnya juga hanya potretnya yang kulihat. Ternyata kenyataannya lebih menyayat. Dan tak sanggup rasanya menatapi berlama-lama. Bahkan aku sendiri berusaha menahan air mata.

Usai dari rumah sakit, perjalanan menuju basecare Makassar. Latar yang biasa digunakan teman-teman untuk melingkar, merangkum segenap kegelisahan untuk direalisasikan. Teringin bersua secara langsung, sebab selama ini hanya berkoordinasi secara tidak langsung. Teringin 'mencuri' ilmu mereka, semangat mereka dan beragam perihal lainnya.

Berpose bersama alumni di Basecare Makassar
Perjalananku bukan perjalanan biasa. Sebab segenap hikmah berhimpun di dalamnya. Mengawali langkah untuk menjenguk teman se-wadah, lantas berlanjut pada kegiatan Refleksi dan Proyeksi yang juga sejak dulu teringin dapat diikuti. Alhamdulillah Allah kabulkan (lagi).

Di sesi ini hikmah itu semakin menghijau. Berhimpun dengan teman-teman yang sejak awal hanya berkomunikasi lewat komunikasi. Seperti sudah saling mengenal namun nyatanya disatukan oleh sebuah frekuensi dan wadah yang satu. 
Satu malam berlalu. Momen tentang dikejar-kejar monyet di Tanjung Pallette belum sirna. Saling tertawa saat mengingatinya. Malam terus berlanjut pada agenda yang lainnya. Saat semua sedang bergumul dan khusyu dalam pemaparan, seketika suasana hening.

Refleksi dan Proyeksi Masyarakat SM-3T Institute
Refleksi dan Proyeksi Masyarakat SM-3T Insitute
Semuannya menunduk, melafazkan doa-doa untuk teman yang kala itu terbaring dan kritis di rumah sakit. Suasana mulai beda terasa. Beberapa menit berlalu, pemaparan pun berlanjut. Namun, tetiba semuanya terdiam. Ada yang menerima telepon, ada yang mengutak-atik hape, ada yang gusar dan selebihnya ada yang mulai terisak. Aku menoleh ke arah teman-teman di belakangku. Suasana malam sangat berubah dan berbeda. Dan tak lama setelahnya semua berderai air mata.

Kepergian dari seorang teman yang dikenal baik, menghadirkan isakan malam itu. Lemas seketika jasad. Air mata membanjiri malam. Agenda terus dilanjutkan hingga akhir. Selepasnya, malam itu juga keseluruhan berkemas. Menyatu dengan malam dengan isak dan rasa kehilangan. Tawa sirna seketika. Hening hingga pagi.

Sekitar jam 04.00 wita jenazah tiba di lokasi tepatnya di Bone. Air mata pun kembali hadir. Tak sanggup dalam suasana itu. Semua larut dalam rasa kehilangan dan menangis. Aku menatapi wajah teman-teman yang sembab, sebab tangis dan kurang istirahat.

Perjalananku bukan perjalanan biasa. Sebab segenap hikmah larut di dalamnya. Untuk sahabat telah berpulang terlebih dahulu, semoga tenang disana. Untuk teman-teman basecare Makassar, terimakasih untuk kebersamaan beberapa waktu yang singkat namun berkesan. Untuk segenap latar bisu yang menghadirkan banyak perihal, syukurku pada Sang Pencipta yang menciptakan. Sebab mentafakkurimu membuatku semakin dekat dengan Penciptaku.

Batam, 29 Desember 2018
-Juniar Sinaga-
#Keeptawadhu

Saturday, December 22, 2018

Ia yang kuakrabi dengan sapaan -Man-

Aku mengakrabinya dengan sapaan Man. Di bulan namaku, yaitu Juni 2018 adalah perjumpaan perdana dengannya saat mengikuti kegiatan SiDaus di Jakarta. Belum pernah bersua sebelumnya dan juga tak pernah berkomunikasi walaupun melalui media sosial, sebab memang belum mengenalinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Di perjumpaan perdana itu pula aku mengetahui bahwa logo harlah SM-3T yang sejak awal muncul sudah menghadirkan kekaguman dalam kalbu. Hingga kugoreskan dalam sebuah kalimat metafora, dan barangkali tak dimaknai oleh yang membaca sebelumnya, jika saja tak kuberitahu. Karya yang sedemikian sempurna itu adalah hasil karyanya. 

Kala itu kami saling bertegur sapa di sela-sela kegiatan. Saling bertanya nama lalu akrab di spasi waktu yang singkat. Kemudian bercengkerama dalam waktu begadang untuk menyusun reportase bersama. "Kakak cepat juga ya akrab," ujarnya malam itu. Aku hanya tertawa merespon ujaran itu. Saling berbagi cerita tentang tempat tugas dan perjalanan hijrahku. Kami berempat larut dalam cerita, tawa, canda dan perihal yang harus dirampungkan malam itu. 

Komunikasi terus berlanjut hingga detik berikutnya. Masih di bagian kegiatan yang sama, ia mengirimkan beberapa potret hasil jepretannya. Aku tahu bahwa ia adalah ahli dalam bidang itu. Maka kutanyakan kesediannya untuk memeriksa kamera DSLRku yang juga turut serta kubawa kala itu. Dia tak menyela bersedia memeriksakan kamera itu lalu menganjurkan beberapa solusi. 

Dalam sekian waktu, lewat komunikasi, seringkali juga kudapati ia menyatu dalam malam. Merampungkan beberapa amanah yang diberikan padanya. Selama membangun komunikasi tak pernah kudapatkan kalimat keluh kesah dari jemarinya. Bahkan kata 'lelah' sekalipun. Padahal aku mengikuti aktifitasnya dari jauh. 

Perjumpaan kedua dengannya berlangsung saat bimtek di Palembang, tepatnya di bulan November 2018. Aku juga tak menyangka kalau dia ada di kegiatan itu. Sebab biasanya ada komunikasi sebelumnya jika akan ada kemungkinan bersua dalam sebuah kegiatan. Barangkali karena kami juga tidak saling menahu bahwa akan berkesempatan di satu kegiatan yang sama. Selama kegiatan itu beberapa kali bersua, tak kudapati raut wajah sakitnya. Tak ada tampak sedikit pun, sebab suara dan sapaannya nyaris tak berbeda dari biasanya. Dan saat itu berkata "Kak, nanti kita berfoto ya. Mau saya bawa untuk dijadikan oleh-oleh buat Akbar". "Siap," jawabku di sela-sela waktu penutupan kegiatan.

Bulan Agustus aku mengabarinya bahwa bulan Desember ingin menunaikan ketidakmungkinkan yang terjadi di tahun 2015, menjejaki Makassar. Dia merespon "ditunggu di Makassar Kak". Dia memberitahu bahwa akan ada MeAN, namun lokasinya belum ditentukan. Teringat juga dengan video rilis akan adanya MeAN di Biak Numfor, saat aku mengapresiasi video itu, dengan yakin dan ber-emoticon ia berucap " Iya kak, alhamdulillah saya yang buat. Keren Kan". Selepasnya ia tertawa lewat kata. Katanya terlalu sombong, jika aku ke Makassar namun tak singgah ke basecare pusat koordinasi Makassar.

Segenap komunikasi itu masih menghijau. Saat aku mendengarnya masuk rumah sakit di spasi perjumpaan di Palembang, seakan tak percaya dan terus terngiang. Hingga saat kujejaki tempat ini, aku tak menemui tawa dan candanya lagi. Tubuhnya yang terbujur dengan selang yang mengelilinya. Bahkan untuk saling bertegur sapa pun, tak dapat. Tak sanggup berlama-lama menatapinya yang terbaring lemah. Kusaksikan pula adiknya yang begitu sabar membersihkan tubuhnya. "Man, kakak sudah di Makassar," ingin rasanya kukatakan demikian. Namun tak bisa.

Dan perjumpaan yang seyogyanya terjadi di bulan Desember, nyatanya adalah perpisahan yang selamanya. Tak dapat lagi kutemui ia yang biasa kupanggil Man. Berkurang pertanyaan yang harus kujawab. Sebab ia termasuk yang rajin sekali bertanya tentang hal-hal yang kulakukan di tempat tugas, tentang siswa dan mendoakan penyempurnaan separuh agamaku. 
Segenap doa untukmu Man. Kiranya Allah menempatkanmu di surga FirdausNya. Akan ada doa-doa yang tak luput dari rekan-rekan seNusantara, untukmu Man. Tenanglah disana.

Makassar, 23 Desember 2018
13.21 Wita
-Juniar Sinaga-
#Keeptawadhu

Friday, October 19, 2018

Senandung Hujan
Oleh: Juniar Sinaga


Hujan mengikis sendu di tanah. Menyirami tandus yang tersembunyi. Cacing cacing menyanyi riang. Menyambut tetesan tetesan kesejukan. Tetesan rahmatMu mendahului kumandang adzan di siang ini. Tangan tangan menengadah bermunajat. Pada setiap tetesannya jutaan doa menyelinap. Walau air matanya tidak sederas tetesan rahmatMu hari ini.

Thursday, April 26, 2018

Tentang Ibu dan Rindu


Adalah gerimis, ketika mendengar seorang Ibu menangis. Mengungkapkan nasihat dengan isak yang tak kunjung reda. Bertambah tumpukan rinduku, Ibu. Aku yang begitu cengeng saat di dekatmu, perlahan tangguh ditempa latar demi latar yang kusinggahi. Namun tetap saja, saat berdialog denganmu, saat bersua denganmu, nada-nadaku tak mampu kuhilangkan. Namun saat engkau mulai bernada manja, seketika itu pula aku seakan dewasa memberikan motivasi untukmu.
.
.
Gejolak yang pernah kita lalui, saat aku menetapkan hati untuk berhijrah pada Islam, kini mendapat jawaban yang indah dari Allah. Dengan agamaku, aku semakin mencintaimu. Baktiku padamu semata-mata karena titah Tuhanku. Dalam sujudku, tak pernah lupa, agar kiranya kelak Allah menyatukan kita dalam cintaNya. Bisa bersujud di baitNya, mendengar kumandang dan takbir yang menggema, bersama. Doaku yang tak pernah putus untukmu. 
.
.
Aku begitu ingat saat orang lain menanyakan diriku yang kini  berbeda, engkau menghadirkan jawaban yang membuatku terharu, dan ingin menangis kala itu. Jawabanmu bagaikan petir yang menyambar siang itu. Aku yang ditatapi karena 'seakan' jauh berbeda, tak merasa canggung waktu, sebab dengan senyuman engkau menjawab setiap tanya yang bertengger. Sementara aku, mengekor di belakangmu, sambil sesekali menggandeng tanganmu. Ah! ingin rasanya kembali kecil lagi.  Agar aku bisa bermanja dan leluasa berayun di pangkuanmu. Namun itu hanya angan bodoh kupikir. 
.
.
Perlahan engkau mulai sepuh, bukan fisikmu, namun tenagamu. Keluh yang kadang engkau ceritakan kupikir bukan karena engkau sudah tak sanggup, namun karena engkau ingin mendapatkan perhatian dariku kan Bu? engkau yang begitu tahu aku pemalas makan, tak pernah lupa untuk menanyakan apakah aku sudah makan. Itu selalu engkau tanyakan setiap kali menelponku. Ah! Ibu, rinduku padamu bermuara sendu.
.
.
"Nak, nanti kalau sudah menikah, baik-baik dengan suami, urus dia dengan baik," ucapmu suatu ketika. "Iya Oma (Ibu)," turutku waktu itu. 
"Oma ingin menantu yang bagaimana?" tambahku waktu itu.
Paparan sederhanamu membuatku senyam-senyum di seberang pulau. Tak berani kutanyakan lagi yang lain. Sebab keinginanmu untuk memiliki menantu saja belum terkabul.
"Doakan aku ya Ma," aku tak lupa menyampaikan itu dalam setiap komunikasiku denganmu.
"Iya. Mana ada orang tua yang tidak mendoakan anaknya," jawabanmu membuatku tertawa dari seberang.
.
.
Doaku untukmu, untuk adik-adik tak pernah putus. Baktiku, kasih sayangku pada kalian semata-mata karena mengharapkan keridhoan Tuhanku, Allah Subhana wa ta'ala. Uhibbukum fillah.

Anambas, 27 April 2018
-Juniar Sinaga-
Keep tawadhu

Wednesday, February 14, 2018

Gula Getah

Siswa kelas V SDN 011 Candi, Kep. Anambas
Sumber: Dokumentasi penulis

Di Rabu siang, untuk ketiga harinya aku (lebih) terakhir balik sekolah. Jauh dari waktu yang biasanya. Ada sesuatu hal yang belum mengizinkan untuk bisa pulang seperti biasa. Aku duduk mengutak-atik laptop dan hape di ruangan wifi sekolah. Sesaat kemudian, anak-anak berdatangan. Bergerombok bak semut, mengelilingku. 

"Ibu balik jam berapa," tanya mereka.
"Nanti sebentar lagi," kembali kusambangi goresan di layar laptop.
"Ibu jalan kaki ya?" tanya mereka. Aku hanya menggangguk-angguk sambil tersenyum.
"Kasihan Ibu," sayup kudengar suara itu berulang-ulang.
Aku keasyikan dengan laptop. Sehingga suara bising yang lalu lalang tak kuhirauakan. Sesekali kupandangi wajah anak-anak. "Sungguh, jasad anak-anak ini tiada lelahnya," pikirku.
"Ibu nanti balik jam berapa?
"Kami nak antar ibu balik, tapi kami terobosan sore," ujar mereka dengan wajah teringin mengantarkanku balik.
"Tak apa. Ibu bisa balik sendiri kok," ujarku sembari tersenyum.
"Ibu ndok bawa bekal ya?" tanya mereka seakan tak habis.
"Bawa," jawabku singkat.
Beberapa menit berlalu, salah seorang anak memberiku permen karet. 
"ini apa namanya?" tanyaku.
"Gula getah Bu," jawab mereka berlomba-lomba.
Aku tertawa mendengar jawaban mereka. Memang bukan bahasa yang baru bagiku.
"Ini untuk Ibu e. Dimakan e bu. Nanti kalau ndok Ibu makan, kami menangis," ujarnya.
Aku hanya tertawa sembari menatapinya. Sebegitunya, pikirku.

Pagi ini, Kamis 15 Februari kembali kudapati tanya.
"Gula getah yang kami kasih lah ibu makan lom?
"Belum," jawabku.
"aok Ibu ni. Bila Ibu nak makan," ucapnya.
"Nanti Ibu makan," aku tersenyum.
"Kalau Ibu ndok makan, usah kasih ke orang e Bu. Itu kami beri untuk ibu," tambahnya.

Momen ini mengingatkanku pada anak-anak di Papua. Aku pernah mengalami momen yang nyaris sama. Latar berbeda, namun ada kondisi yang nyaris menyerupai. Ada dialek yang dialek yang berbeda. Ah! aksara. Apakah engkau akan kutemukan utuh di latar ini?

Anambas, 15 Februari 2018
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-


Friday, February 2, 2018

Gelak Memori (Part 2)

Juniar Sinaga
Masih tentang gelak memori saat pelepasan GGD di Jakarta. Malamnya, aku tidak bisa turut serta mengikuti kegiatan mengenai teknis keberangkatan. Alasannya bukan karena begitu sibuk, namun karena sebuah amanah. 
Pun, aku tak pernah menduga bahwa akan kutemukan gelak tawa non konyol, kukira. Berlanjut pada perbincangan teman satu bilik. 
"Kak, besok Nur masuk rombongan bus nomor berapa?"
"Si kakak menanyakan nomor urutku. Lantas dengan singkat ia menyebutkan nomor busnya".
Jadi ceritanya, setiap bus itu telah ditentukan koordinatornya. Dan setiap koordinator bertugas untuk mengecek anggotanya masing-masing. Aku sendiri begitu optimis dengan penjabaran kakak satu bilik.
Hingga akhirnya, sampailah pada keesokan harinya. Aku masuk ke dalam bus sesuai dengan nomor rombongan yang disebut si kakak. Aku santai saja dalam bus ibu. Kotak kue sudah tersedia di atas kursi. Tinggal makan, kalau memang ingin.
GGD menuju gedung Kemdikbud
Sumber: Dokumentasi penulis
Perlahan tapi pasti, sang koordinator pun mulai mengabsen anggotanya. Satu per satu dipanggil. Tapi kok namaku tak dipanggil ya? Qodarallah, waktu itu aku memang mengenal koordinatornya. Namun kupikir itu tak memengaruhi pengabsenan. Lantas aku bertanya pada teman yang sama sekali belum kukenal, namun posisinya tepat di samping tempaku duduk. 
"Mba, kok nama saya tak dipanggil ya?"
"Mungkin karena koordinatornya kenal mba, makanya sudah langsung diceklis".
"Apa iya ya begitu," pikirku. 
Selang beberapa menit, hapeku berdering. Dari seberang terdengar sahutan "Nur, kamu dimana? dari tadi namamu dipanggilin," ujarnya. 
Waduh! Aku sudah terbayang bakalan ditertawakan yang lain. Mau sembunyi dimana ini?
Aku bergegas ingin turun. Sang koordinator memanggilku " mau kemana kak Jun?".
"Saya salah bus Bang," jawabku. 
Saat posisiku ingin melangkah kelaur, si mbak yang berada di sampingku masih sempat berujar " Mba, kuenya ini tak dibawa?". Tak sanggup menahan ketawa mengingat momen ini. Serius.
"Tidak usah turun kak Jun. Tak apa-apa. Ini sudah mau berangkat kok," ucap sang koordinator.

***
Aku masih merasa malu. Saat tiba di gedung Graha Kemdikbud, aku "diomelin" koordinator yang sebenarnya. Aku hanya tertawa. Namanya juga ketidak sengajaan. Sudah salah info dari awal. ^_^.

Aku melanjutkan langkah, menemui si kakak satu bilik.
"Kak, Nur salah bus e," ucapku sembari bersembunyi di punggungnya. 
"Nur malu," ucapku sembari tertawa.
"Maaf Nur, kakak salah arahan," ujarnya sembari terkekeh.
Ah! ada-ada saja hal konyol yang ditemui.
***
Saat pemberangkatan menuju acara, sepasang mataku sempat tertuju sekilas pada perpustakaan kemdikbud.
"Harus mampir nanti," ujarku dalam hati.
Kegiatan pelepasan telah berakhir. Aku berpisah total dari teman-teman sebilik, semuanya. 
Usai bercakap-cakap dengan salah seorang Bapak yang bekerja di kemdikbud, aku berpamitan.
Perpustakaan Kemdikbud
Sumber: Dokumentasi penulis
Dengan modal tekad dan nekat, aku meraba-raba jalan menuju perpustakaan kemdikbud. Entah kenapa aku tak peduli tanpa teman saat itu. Aku mengamati ruangan perpustakaan itu. Di dalamnya terpajang foto-foto pemenang fotografi yang diadakan kemdikbud.
"Ah, teringin rasanya karyaku juga bisa terpajang disini," aku menghela nafas. 
Aku meminta bantuan pada seorang wanita yang saat itu juga sedang berkunjung.
"Ibu, bisa minta tolong? Mau foto disini," ucapku dengna lembut.
"Nanti gantian ya. Saya juga ingin foto," ujarnya sembari tersenyum.
Rencana telah kesampaian. Sekembalinya dari perpustakaan, aku sedikit ragu arah pulang. Aku tidak takut, sebab ada petugas yang bisa ditanya. Hingga pada detik yang tak lama, kakak se-Indonesia datang dari arah gedung kemdikbud. Ia tampak mengulum senyum. Aku tak tahu apakah tersenyum karena melihatku yang tampak seolah "linglung" atau entahlah.
Dan lagi, aku ketinggalan bus. Hanya tinggal satu rombongan lagi yang tersisa. Setia menunggu peserta yang tertinggal. Aku masuk dalam deretan itu. Kekonyolan apa lagi ini?
Aku senyam-senyum mengingat kejadian-kejadian unik yang kutemui dari pagi hingga siang. Pagi, salah bus, siang ketinggalan bus. Lagi, lagi aku tak dapat menahan tawa saat menuliskan ini.

Selalu saja ada hal lucu yang kita sebagai pelakonnya. Semuanya terjadi tanpa kita persiapkan skenarionya, namun Allah sudah mengetahui sebelumnya. Gelak memori, lestari di palung hati.

03 Februari 2018
Wa ila rabbika farghob
Keep Tawadhu
-Juniar Sinaga-

Tuesday, January 30, 2018

Bonus jalan-jalan dari ALLAH


Biasanya aku berlayar ke ibukota kabupaten pas hari Sabtu. Sebab di hari itu kegiatanku biasanya berlangsung. Malamnya aku harus menginap di kos saudari baruku. Esok harinya baru kembali menuju pulau, tempatku bertugas. Namun di penghujung bulan ini, jadwal keberangkatanku berubah, beralih ke hari Ahad. Tadinya aku sudah berpikir untuk tidak pergi. Memikirkan transportasi, juga karena kondisi jasad yang lumayan tidak begitu fit. Bukan dengan berat langkah, aku meminta rekan untuk mengantarkanku ke pelabuhan speed. “Ada atau tidak adanya nanti speed itu urusan kesekian. Setidaknya aku sudah berikhtiar dulu sebelum memutuskan untuk mengonfirmasi ke teman lainnya,” pikirku. Targetku jam 7.30 wib sudah harus berangkat. Namun, harapan takkan selalu selaras dengan kenyataan. Lama menunggu, penumpang belum juga ada yang datang. Di latar ini, kalau kita mau bepergian biasanya menggunakan pompong (motor laut) atau speed, termasuk sebatas menuju ibukota kabupaten. Kalau naik speed, penumpang minimal 5 atau 6 orang baru berlaku harga ongkos normal. Jika hanya 2 orang, biasanya sistem carter, artinya berlaku penambahan ongkos dari harga yang biasanya.

Memanjangkan sabar sembari mendengarkan cerita dari orang tua siswa yang sedang menunggu penumpang. Aku lupa entah menit keberapa baru muncul 2 penumpang lainnya. Sementara waktu telah menunjukkan pukul 08.30 wib. Aku mengomunikasikan dengan teman yang lainnya. Alhamdulillah mendapat keringanan waktu, agenda diundur jam 09.00 wib. Kembali menunggu, namun penumpung urung bertambah. Kembali ke pilihan terakhir, penambahan ongkos. “Tak apalah,” pikirku. Yang penting hari ini bisa hadir untuk agenda ini.

Ombak tidak begitu ganas pagi itu. Hanya saja saat mendekati ibukota kabupaten, sesekali hempasan air laut ke badan speed sangat terasa. Dalam waktu 30 menit, perjalanan berakhir. Alhamdulillah sampai dengan selamat.

Ini untuk pertama kalinya aku hadir dengan keterlambatan yang paling lama. Tapi tidak apa, qodarallah. Selepas kegiatan, tak banyak melangkah ke petualangan lainnya. Sebab masih harus memikirkan kendaraan pulang. Tak ramai speed yang bertengger di pelabuhan. Dan untuk menuju tempatku balik pun, sama sekali tidak ada. Aku menuggu, hingga pandanganku beralih pada lelaki tua yang biasa mengantarkanku jika ke ibukota kabupaten. Tapi sayangnya, kali ini lelaki tua itu tiak bisa mengantarkanku sebab beliau masih harus mengantarkan penumpang yang telah memanggilnya. Istilah kerennya “sudah dicarter”. Penumpangnya hanya satu, namun barangnya banyak. Dengan loby  ala diriku, akhirnya penumpangnya tidak keberatan. Alhamdulillah.

“Kita ke Nongkat dulu ya, ngantar bapak ini,” begitu kata lelaki tua itu.
“Iya, Encik tak apa,” jawabku singkat.
“Saya diantar dulu ya Bu, baru nanti Ibu,” ucap penumpang bertubuh kekar itu. Badannya kekar, namun sudah tidak muda lagi.
“Iya Pak,” jawabku singkat.

Mendengar Nongkat, aku seakan tidak percaya sore itu bahwa aku akan singgah disana. Sebab pulau Nongkat termasuk salah satu pulau yang ramai dikunjungi saat musim liburan. Dan nama pulau itu sudah kudengar sejak kemarin. Bahkan siswaku mengajak kesana, namun belum kesampaian.

Aku menikmati hempasan ombak, birunya lautan. Semakin dekat dengan pulau Nongkat, kebeningan semakin tampak. Sampah-sampah pun tidak ada kelihatan. “Sungguh, beruntungnya hari ini,” lirihku. Mungkin jika tadi pagi aku membatalkan perjalanan, takkan sampai ke tempat ini,” senyumku merekah.

“Ibu sudah sampai di Nongkat,’ ujar lelaki tua itu saat speed berhenti. Aku tersenyum dan tak mampu berkata-kata. “Akhirnya sampai juga ke tempat ini. Indah rencana Allah,” ucapku.
Sekembalinya, aku seperti sedang berlibur bersama kakek sendiri.
“saya berdiri ya Encik,” ucapku.
“Iya, ndok ape,” ujar Encik sambil terus fokus mengemudikan kendaraan.
Sesampainya di tujuan, ongkos yang kusodorkan pun tidak diterima.
Ndok ape, diambil ojo,’ ucap lelaki tua itu.
“Nikmat apa lagi yang Allah berikan ini?” Lagi, lagi dan lagi.

***

 Aku sangat meyakini bahwa ketika kita mendahulukan Allah, merendah di hadapanNya, memasrahkan padaNya, maka akan ada kejutan yang datang dariNya. 
Lingkaran cinta. Adalah jalanku untuk mengisi ruhiyah. Jarak yang lumayan jauh tentu saja terkadang menggoda untuk meminta izin. Namun kembali lagi pada niat. Tanpaku lingkaran itu tidak akan mengapa, namun tanpa lingkaran itu terasa hampa. Bukan lingkaran itu yang membutuhkanku, namun aku yang membutuhkannya. Aku selalu mengingat nasihat guruku. Meminta izin untuk lingkaran ini semestinya jika memang ada udzur yang tak ter-elakkan. 
Pagi tadi, kondisi transportasi sudah menguji. Ingin memilih kembali dan izin saja hari ini. Namun, aku baru sadar itu sebagai ujian setelah kembali. Barangkali Allah ingin menguji keimananku, menguji seberapa bijak aku untuk menentukan pilihan dalam situasi yang sebenarnya tidak rumit namun juga tak mudah. 

Memilih untuk melanjutkan perjalanan. Bersua untuk saling menguatkan. Sekembalinya, Allah memberikan banyak bonus serta kesempatan untuk bisa menyinggagi salah satu pulau yang sedari kemarin hanya ada di telinga dan di angan. Aku kembali mengingat nasihat guruku. "Dahulukanlah Allah, maka Allah akan memudahkanmu". Sungguh, sangat benar adanya. Allah, Allah, Allah.

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-


Friday, January 26, 2018

GELAK MEMORI (Part 1)

Kejutan yang tidak mengejutkan
      
    Ada beragam momen yang acapkali sulit untuk dimusnahkan. Wajar, sebab momen positif memang tidak semestinya dimusnahkan. Seperti momen saat aku dan ribuan rekan-rekan se-Indonesia mendapat kesempatan untuk turut serta menyaksikan pelepasan Guru Garis Depan 2016 (GGD 2016). 
     Jika menarik ulur cerita, aku bahkan seakan tak percaya akan kesempatan ini. Namun begitulah indahnya rencana Allah, selalu saja menakjubkan. Saat itu aku masih sibuk mengemas berkas-berkas rekan-rekan lainnya, dan merampungkan amanah yang diberikan yakni menghubungi rekan-rekan yang belum rampung dalam pemberkasan. Di spasi waktu kusempatkan juga untuk mengamati riuh penantian di beberapa grup yang aku sendiri pun berada di dalamnya, bahkan juga sebagai adminnya. Aku sangat menikmati amanah itu. Yah, walaupun memang tak selalu menyemai dukungan, sebab manusia memang tak selamanya akan memihak pada kita. Apalagi waktu itu kondisinya sudah berada pada penantian panjang. Aku tak mampu menyebutkan itu pengujian kesabaran di tingkat berapa.
      Kesibukan mengurusi berkas dan mengurusi keperluan diri membuatku larut. Hingga suatu ketika muncul dokumen dalam bentuk PDF di grup. Lalu yang memposting mengucapkan kata-kata demikian "Selamat untuk teman-teman yang ikut ke Jakarta untuk Pelepasan GGD". Aku biasa saja responnya waktu itu. Kubiarkan dokumen itu di grup, belum kubuka, belum kubaca sama sekali. Selanjutnya bertambahlah ucapan selamat di grup. "Selamat untuk teman-teman yang ikut". Pernyataan itu kembali muncul, namun dengan menyebutkan beberapa nama dari Riau yang mendapat kesempatan. Dan dalam nama-nama yang mereka sebutkan termasuk namaku. Pelan dan tanpa tergopoh-gopoh aku membuka file itu. Bertumpuk nama di dalamnya, ada yang kukenal dan lebih banyak yang tak kukenali. Aku mencoba mencari namaku, mana tahu teman-temanku keliru. Nama yang tertulis namaku, namun sesungguhnya bukan diriku. Bisa jadi kan ya.
      Setelah kubaca, nama dan penempatan kabupatennya, benarlah adanya bahwa itu adalah aku, Juniar Sinaga. Responku tak berlebihan, sebatas lafaz syukur atas kesempatan yang ada. Sebab jauh sebelumnya, untuk bisa ikut dalam pelepasan ke Jakarta bukanlah ekspektasi terbesarku. Namun jika memang Allah berikan kesempatan, tentu tidak akan menolak bukan? Indah ya rencana Allah.

Fa inna ma'al usri usra
      Fix, aku ikut ke Jakarta untuk perwakilan GGD Anambas dalam pelepasan secara simbolis GGD 2016. Saat yang lain sibuk menanyakan apa-apa saja yang akan dibawa, aku justru kebingungan memikirkan tiket. Kondisi keuangan yang saat itu sedang minim tak memungkinkan untuk membooking tiket dalam waktu dekat. Sementara harga tiket biasanya tahu kan ya, semakin dekat semakin mahal. Ada beberapa kemungkinan yang harus dilakukan. Pertama, mengutang uang teman, lalu membayarkannya setelah nanti penggantian uang transportasi. Kedua, meminjam ke orang tua. Keduanya adalah pilihan yang amat berat. Meminjam uang dalam nominal jutaan, membuat badan merinding. Sebab belum pernah melakukan sebelumnya.
    Aku percaya bahwa rasa syukur senantiasa menghadirkan solusi. Allah tidak akan mungkin memberi kesempatan ini, lalu membiarkan kebingungan untuk mencari tiket menuju lokasi. Tenang, tenang dan tenang sembari mencari solusi. Perlahan aku mulai menanyakan ke teman-teman yang lain. Sementara ke keluarga sendiri aku tak menyampaikan sedikit pun hal mengenai tiket yang belum ada.Tentu alasannya sederhana, tak ingin merepotkan dan membebani. Tanggapan dari teman yang lain, "saya juga sedang minim uang bu Nur. Saya juga minjam jadinya". Begitulah jawaban yang kudapatkan. 
         Aku lupa pastinya, entah siang atau malam waktu itu. Aku mendapatkan whatsapp dari partner jauh. Motivator "pembunuh" yang beberapa kali mencoba membunuh ke-pesimis-anku. Beliau menanyakan tentang tiket, apakah sudah ada atau belum. Dalam hati menjawab "Belum". Balasanku menghadirkan solusi dari beliau. Mengarahkanku pada seseorang yang juga belum kukenali. Lika liku komunikasi pada orang yang pertama kali dijapri lantas memanggilku "pak". Aku diam dan tak membalas panggilan itu di saat yang bersamaan. Menenangkan diri lalu membalas "saya perempuan, Pak". Aku tidak tahu bagaimana ekspresi penerima sesaat setelah membaca klarifikasi itu. Sementara, hal yang kutanyakan padanya pun tak ada lagi. Habis!
        Selanjutnya apa yang kurasakan setelah itu? Bingung? Iya. Panik? Tentu tidak. Sebab ikhtiarku belum berakhir. Aku mencoba menghubungi partner bin kakak. Berlanjut pada pencarian solusi hingga berakhir pada "adanya" hasil akhir. Alhamdulillah. Ekspresiku setelah mendapatkan tiket, masih sama seperti sebelumnya. Datar dan melafazkan syukur untuk kesekian kalinya.

Keberangkatan dan Berpamitan
        Kegiatan kali ini sekaligus sebagai langkah awal menuju tempat penugasan. Walaupun kala itu belum ada informasi pemanggilan dari penempatan. Pemanggilan atau belum, tetap berangkat. Ini bukan pernyataan kepasrahan. Bukan juga nekat, melainkan satu pilihan yang harus dijalankan tanpa memikirkan konsekuensi nantinya. Hanya meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. InsyaAllah.
     Aku lupa tepatnya jam berapa sampai di lokasi, Jakarta. Setelah 'bersantai' beberapa jam di bandara, akhirnya kaki sampai juga di peraduan. Check in bersama rekan yang sama-sama berangkat dari satu tempat, hingga akhirnya berada pada satu bilik yang sama. Mengamati sudut-sudut latar, tak banyak yang kukenali. Suasana baru berubah saat kegiatan pembukaan berlangsung. Satu per satu bermunculan wajah-wajah lama di latar yang baru. Satu per satu bermunculan pula wajah yang sebelumnya belum pernah bersua namun sudah saling berkoordinasi.  Rasanya nano-nano. Saya sangat menikmati setiap kegiatan, tak terasa letih. Sementara bayangan penempatan tak kupikirkan. Lupakan sejenak.
Pemberangkatan Simbolis GGD 2016
Sumber: Dokumentasi penulis


Bersua dengan Pemilik Darah Basecare
     Tak banyak waktu bersama mereka. Sebab kegiatan yang terus sambung menyambung dan atas amanah yang terus bergulir. Raga berada di tempat ini namun jemari tetap tak henti mengabarkan di grup. Meminimalisir prasangka dan rasa resah dari jauh. Pertemuan dengan mereka pun selang seling. Entah itu saat sarapan pagi, juga di sela-sela waktu istirahat dalam kegiatan di ruangan. Puncak pertemuan sekaligus menjadi perpisahannya adalah setelah penutupan kegiatan. Berupaya menahan rasa segan dan malu sekedar ingin berfoto bersama. Kapan lagi bisa bertemu dan berkumpul dengan mereka jika tidak sekarang? Sementara perjumpaan untuk saling memotivasi menganyam cerita belum bisa dipastikan akan ada, sebab usia tetap menjadi rahasiaNya.

Bersama Masyarakat SM-3T Indonesia
Sumber: Dokumentasi penulis
Perjumpaan pertama, yang semoga bukan terakhir. Sebab masih banyak hal yang ingin disemai dari mereka. Tentang kesenyapan, tentang suluh dan segenap cerita lainnya. 
Kalian adalah aksara, yang telah menjadi bagian dari setiap anyamanku. Kalian adalah rasa, yang bisa beragam makna. Selamat menabung pahala di sudut-sudut negeri Indonesia. Salamku untuk anak-anak bangsa disana, semoga bersua di lain masa. InsyaAllah.

Anambas, 27 Januari 2018
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga

Sunday, December 24, 2017

Seperti Ikan-ikan di Lautan

Kolam Ikan
Sumber: Dokumentasi Penulis
Beragam lingkungan akan dan telah kita hadapi. Dan beragam pula keadaan yang akan kita temui. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yaitu terwarnai atau mewarnai. Kedua kemungkinan tersebut bisa saja terjadi pada diri kita. Terwarnai, saat kita tidak mampu bertahan, dan mewarnai saat kita mampu bertahan. Apakah ada yang salah jika kita terwarnai? Tidak. Tidak ada yang salah jika kita terwarnai, asalkan terwarnai oleh hal yang baik dan positif. Pun sebaliknya, apakah salah jika kita mewarnai? Sekali lagi, tidak ada yang salah, selagi kita mewarnai dengan hal yang baik dan positif.

Suatu waktu aku menatapi lautan. Memandangi ikan-ikan yang asyik berenang. Beragam jenis ikan yang kulihat. Aku merenung. Dari beberapa ikan yang hidup di lautan, belum pernah kutemui keasinan air laut itu meresap ke tubuh ikan. Saat disemai dari lautan, ikan itu tetap tawar. Ia tidak terpengaruh oleh keasinan air lautan. Bukan hanya keasinan laut yang ia hadapi, melinkan juga gelombang lautan yang silih berganti dan berbeda setiap bulan dan tahunnya.

Keasinan air lautan memang bukan diidentikkan menjadi sebuah keburukan. Hanya saja aku mengambil suatu pembelajaran, mendapatkan sebuah motivasi untuk tegar. "Jika ikan-ikan di lautan saja mendapat ujian gelombang lautan yang sedemikian rupa, bagaimana mana mungkin aku tidak," pikirku.
Selalu ada hal implisit yang kubaca. Dari ciptaanNya yang begitu luas, tak terhingga.

Semoga diri bisa mewarnai dengan kebaikan, kemaslahatan dan ke-positif-an, dan terwarnai kebaikan, kemaslahatan serta ke-positif-an juga. Istajib du'ana Ya Allah. Allahumma istajib.

Anambas, 25122017

Wa ila rabbika farghob
Keep Tawadhu
-Juniar Sinaga-

Tuesday, December 12, 2017

Problem Solver atau Problem Speaker

Berbagai permasalahan akan berdatangan tanpa harus kita minta, tanpa harus kita seru, ia akan datang dengan sendirinya. Hakikatnya, permasalahan adalah pen-dewasa bagi sasarannya. Dan sepemahaman saya, permasalahan bukan untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi. Jika permasalahan menghampiri, kita tidak diminta untuk melarikan diri darinya. Sebab sejauh apapun kita berlari dari masalah, itu tidak akan menghilangkan masalah, namun memperkeruh. Kala permalasahan bertengger, kita diminta untuk mencari sebuah solusi. 

Ada beberapa pilihan yang bisa kita tentukan pada sebuah kondisi, yakni kondisi saat permasalahan itu datang. Ada personal yang lebih tertarik membicarakan masalah itu, bahas sisi ini, sisi itu, namun tak memberikan solusi apapun. Tak berkenan mengambil peran sekecil apapun. Dia hanya berfokus membicarakan tanpa harus memberikan simpulan yang berarti di akhir. 
Pilihan kedua adalah tidak berbicara banyak tentang masalah itu. Tak membuang waktu untuk membahas sisi ini sisi itu, namun berfokus mencari sebuah solusi. 
Pilihan ketiga adalah membiacarakan masalah yang ada. Mencari penyebab masalah tersebut, selanjutnya mencari sebuah solusi atas masalah tersebut. Sehingga dia tidak berfokus hanya sebagai problem speaker, namun juga menjadi problem solver. Dia berupaya mengambil peran dan solusi guna menyelesaikan permalasahan yang ada. 

Sudah menjadi sebuah wacana yang klise, jangan hanya berfokus pada masalah, namun temukan solusi. Dalam konteks ini, yang lebih dekat adalah permasalahan sederhana yang menggerogoti kita saban harinya. Untuk ranah yang sedang kita tekuni saat ini, ini adalah refleksi diri bagi saya pribadi untuk menentukan pilihan selanjutnya. Mau menjadi problem speaker saja atau problem solver saja, atau keduanya. Itulah balik ke diri kita masing-masing. 

"Jika tidak bisa menyelesaikan sebuah masalah,setidaknya jangan memunculkan masalah yang baru"
  (Moh. Nuh) 

Alhamdulillahi 'ala kulli haal
Anambas, 13122017

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-

Wednesday, November 8, 2017

Narasi Malam

Kutatapi layar laptop yang malam ini sedang kurang sehat. Di jeda waktu itu pula kutatapi wajah-wajah rekan se-bait yang telah tertidur pulas. Sedari tadi, mataku pun telah merayu. Ingin menguncup sejenak melepas lelah dari pagi hingga petang tadi. Namun, lembaran-lembaran yang belum juga rampung membayangi. Detik demi detik terasa cepat berlalu. Sementara setiap tugas yang berbaris rapi dalam buku agenda belum juga rampung. Mungkin aku harus membuat perjanjian dengan mataku, bahwa ia tidak bisa meninggalkanku seorang diri.

Kembali kubuka lembaran-lembaran sumbing itu. Aku terhenti dan terus berikhtiar memahami. Sejak kemarin hingga pada penghujung oktober yang semakin dekat, perdamaian dengan waktu dan jasad ini seakan tidak satu frekuensi. Saat mata berhasil dimintai kompromi, justru waktu seakan cepat berlari. Jika sudah begitu, mungkin harus mengatur ulang semuanya.

Langkah ini belum usai. Masih banyak yang harus dirampungkan. Masih banyak yang harus diupayakan, direalisasikan. Biarlah doa dan ikhtiar membersamai diri, ditemani tawakkal yang takkan habis dikikis waktu. Semoga!


23.52 WIB
28102017

Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
Juniar Sinaga

Tuesday, October 3, 2017

Membaca Latar dan Pelakonnya

Aku terus belajar membaca latar yang baru, juga pelakon yang bermukim di dalamnya. Sederetan karakter dan dialek yang berbeda belum rampung kupahami. Bukan hanya yang ditemui yang dibaca, bahkan kaki-kaki yang melangkah bersamaan di latar ini pun masih harus kubaca dengan seksama.

Di pintu pagi sering kutemui resah, namun wajahku tak sampai basah. Sebab simpuh di seba'da adzan subuh masih ada untuk penguatan. Pun punggung lantai masih ada untuk tempat bersimpuh. Beragam desah dan gelisah pun tak luput di ruang-ruang perkumpulan para pemilik karakter yang berbeda. Sementara aku hanya terus berpikir sembari memohon kelembutan hati. Apakah mungkin kita terus meng-ego-i, memikirkan kepentingan diri kita sendiri. Lalu setelah itu kita bernyanyi dengan nyaring tanpa memikirkan kepentingan lainnya. Apakah mungkin kita mengingkari, kata-kata kebersamaan sedari awal, lalu kita mementingkan keinginan diri sendiri, meninggalkan yang lainnya tertatih dan merintih. 

Dalam palungan bumi, akan selalu ada keadaan yang meminta kita untuk berusaha memahami, bukan sekedar mengerti, apalagi harus meng-ego-i. Dan dari keadaan itu pulalah kita akan belajar membangun kedewasaan diri dan belajar untuk mencari solusi. 


Candi, Kepulauan Anambas
03 Oktober 2017

Wa ila rabbika farhob
Keep tawadhu
Juniar Sinaga

Thursday, September 7, 2017

Sepasang Senyuman

Malam bukan jenaka, namun ada saja tawa yang terdampar di spasi kata. Bukan sesuatu yang disengaja, namun jemari mengejanya begitu saja. Kami bukan makhluk puitis tuan, hanya saja sedang belajar membaca makna implisit, yang ternyata begitu sulit.

Kata memang bukan senjata. Iya, senjata yang kutahu adalah doa. Namun, mereka bilang senjata penulis adalah kata. Apakah tuan seiya dengan mereka?

Kami terkesan bersinestesia. Renungkan saja, tangan seakan melihat. Padahal, ada sepasang mata yang jernih dicipta untuk mengamati sekeliling kita. Dan mata seakan merasa, padahal jelas indera pengecap, pun jelas telah dicipta. Semisal senyuman yang dibaca, lewat sepasang emoticon biasa. Bukankah ia juga telah dibaca oleh mata? Padahal seharusnya adalah dibaca lisan kita.


07 September 2017
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu
-Juniar Sinaga-







Tuesday, September 5, 2017

HarLah SM-3T, 6 Tahun

Kilas Balik

Sulit untuk memulai cerita ini darimana. Aku mengenalimu sejak masih di titik akhir perampungan tugas akhir. Walaupun belum mengenal dari keseluruhan sisi. Mencari informasi tentangmu terus menerus adalah bentuk keseriusanku untuk menjadi bagian darimu kala itu. Bahkan, rasa segan yang menebal, sedikit kukikis waktu itu agar berani bertanya kepada dosen pembimbing. Bahkan, sempat juga aku meminta petuah sebelum "memilihmu'. 
Aku bak seseorang yang sedang 'jatuh cinta', karena tak ingin melewatkan kabar tentangmu.
Memasuki akhir tahun 2012, aku rampung menyelesaikan satu amanah. Tinggal pengukuhan sebentuk wisuda yang kutunggu, dan selanjutnya akan dilaksanakan di tahun 2013. Di tahun itu pula, kabar tentangmu berhembus ke setiap penjuru. Aku menggebu, tak sabar ingin menjadi bagian dari dirimu. Namun, ada buncah yang sulit untuk ditepis. engkau tahu kenapa? Sebab aku masih harus meminta restu kepada keluargaku. Memilih bersamamu memang hak prerogatifku. Namun memilih tanpa sebuah restu, tak bisa melanjutkannya pada langkah yang lebih jauh. Aku menyeka air mata, meredam sedih lewat isak tangis yang terus tersembunyi. Kupikir, bukan kehadiranmu yang tidak tepat kala itu. Hanya kondisi saja yang sedang kurang kondusif untuk mengizinkanku pergi bersamamu, sebab bukan sehari dua hari, bukan juga dengan 1,5 spasi jaraknya. 'Kegalauan' yang menyatu dengan melankolis hingga akhirnya sempurna menjadi sebuah 'kepasrahan'. 
Perlahan, aku ingin mencoba melupakanmu. Hingga nyaris kupikir, mungkin engkau bukan "jodohku'. Namun tetap saja aku tidak mampu. Roman pelosok negeri telah membayang di pikiranku. Walau hari demi hari aku terus 'bergerak' agar kiranya bayangmu hanyut dalam setiap manuver yang belum menepi. Di jeda 'kegundahan' yang belum luput, dengan semangat yang tersisa, berulang kali aku melobi keluarga. Terkadang hujanku lebih awal turun sebelum tendensi landing.
'Biarlah situasi kondusif dulu,' begitu rangkuman yang kudapatkan. 
Menyingkat eksposisi tentang spasi demi spasi untuk bisa membersamaimu, akhirnya keluarga merestui. Selembar kertas berisi segala persyaratan diberikan padaku. engkau tahu, tumpah hujanku seketika. Rasa bercampur, kurasakan waktu itu. Kubaca prosedur yang tertera dalam lembaran itu, agar kiranya tahu paragraf langkah harus dimulai dari arah mana. Semuanya aku rampungkan, hingga akhirnya September 2013 aku menjadi bagian dari dirimu. Selalu saja aku ingin bercerita tentangmu, bahkan takkan habis hingga saat aku menuliskan ini. 

Setelah kepulanganku dari latar yang telah memberiku banyak makna, untuk pertama kalinya aku menuliskan tentangmu di blog dengan paparan sederhana namun cukup panjang. mengabdi-untuk-negeriku-bersama-sm-3t. Itu hanya sebentuk ungkapan rasa 'cinta' yang sederhana dariku. Sebab semua potret pelosok yang kuabadikan  masih tersimpan di ruang data, dan tak banyak yang kusuguhkan di dunia maya.
Dalam setiap pertambahan usiamu, selalu saja ada ide-ide 'konvensional' yang bergelantungan di ranting-ranting pikiranku. Di pertambahan usiamu keempat, aku berada pada kondisi 'melemah' baik fisik maupun pikiran. Berjuang dalam tahap semi akhir yang juga menjadi bait kebersamaan denganmu. Pada situasi itu pula, aku melukis ucapan sederhana untukmu di sela-sela kondisi 'tertatihku'. 

Di sela-sela kesibukan PPG tahun 2015
Pun selanjutnya, pada pertambahan usiamu kelima tahun, bersama MSI Riau merealisasi rencana kepedulian sebentuk rupa berbagi dengan sederhana. Bahkan aku terkadang berpikir bahwa perealisasian itu bukan sebuah pencapaian  yang bermakna besar. Namun, sadarku bahwa seribu langkah berawal dari satu dua langkah kecil, hingga aku terus membangun pikiran untuk bergerak walau lewat gerakan kecil. Seperti sebuah hadits Rasulullah Shallahu'alai wassalam "Amalan yang dicintai Allah adalah amalan yang rutin walaupun sedikit (HR.Muslim). 

Spanduk manual ala MSI Riau di HarLah SM-3T kelima
Aku adalah musuh untuk diriku sendiri. Sehingga saat ekspektasi terlalu tinggi, namun tanpa ikhtiar dan realisasi, bagai mimpi buruk yang menggerayungi. Dari hal itu pula aku belajar untuk berupaya bergerak sesuai dengan kapasitas yang kusanggupi, walau hanya sebentuk narasi dan deskripsi. Suatu hari, seorang senior menyampaikan sebuah nasihat saat aku meminta saran dan berbagai solusi. "Jangan menunggu ahli, baru mau berkontribusi," sahut beliau. Aku hanya mengangguk-angguk sembari meresapi isi nasihat itu. Ditambah lagi dengan santapan yang kudapatkan lewat bacaan, "Di atas langit masih ada langit. Di bawah bumi masih ada bumi. Berbagilah sesuai dengan kemampuan yang kita bisa". Makna yang disampaikan oleh penyampai nasihat ini yaitu bahwa orang yang memberi, orang yang berbagi, sejatinya bukan karena mereka memiliki hal yang berlebih atas apa yang dibagikan. Dan jangan menunggu berlebih dulu. Dalam setiap kelebihan yang dimiliki seseorang, masih ada yang lain yang juga memiliki kelebihan dari yang dimilikinya. Sebaliknya, dalam sebuah kekurangan yang dimiliki seseorang, masih ada juga yang lebih kekurangan darinya. Sehingga, berbagi jangan menunggu berlebih. Kira-kira begitu maknanya.
Banyak makna hidup dan kesempatan yang kudapatkan. Sehabis kepulangan dari penempatan, yang waktu itu menjadi peserta yang lebih awal dipulangkan sebab kondisi yang SANGAT tidak kondusif. Sebab nyawa telah menjadi taruhannya. Di tahun 2014, terbuka sebuah kesempatan untuk mengikuti sebuah lomba yang tema-nya masih dalam jalurku. Dengan sebuah keyakinan dan keberanian, aku mencoba mengirimkan foto siswa yang kuabadikan di sela-sela mengajar. Dan sore hari pada jam dan waktu yang tak kuingat lagi, rasanya bagai 'dilamar tiba-tiba'. Kaget, senang, namun tetap berusaha tenang waktu itu. Foto siswa yang kukirimkan membawaku pada juara 2. Aku senang waktu itu, namun sekedarnya saja, tak mau berlebihan. Dan kesempatan itu membuka beberapa kesempatan lainnya. Sebab lewat lomba itu, aku mendapatkan kesempatan dan diundang liputan 6 untuk bisa turut serta dalam silaturahmi SM-3T Se-Indonesia, dan bertemu pak menteri pendidikan Bapak Muhammad Noh. Salah satu sosok yang juga aku kagumi. 
Sebuah kesempatan membuka kesempatan lainnya
Banyak hal yang belum kuuraikan dalam tulisan ini. Sangat banyak dan teramat panjang. Bahkan jika mengikuti pikiran dan jemari, ingin rasanya aku tuliskan semua disini. Namun, biarlah paragraf selanjutnya kutitip dan kusimpan menjadi kenangan yang tiada tepinya, kecuali jika Allah telah meminta pulang. Maka kenangan itu pun akan kubawa juga.


Kontemplasi Kontribusi
Tentang kontribusi, rasanya aku masih jauh dari ke-maksimal-an dalam berkontribusi. Aku bahkan mampu menghitung kontribusi yang telah kulakukan, masih hitungan jari. Sementara engkau, usiamu masih sangat muda, masih umur anak SD yang jika engkau berwujud manusia barangkali masih menduduki bangku kelas 1 SD. Namun kontribusimu, Allah yang lebih mengetahui. Usia 6 tahun, engkau mempu memberikan banyak makna, banyak maslahat. Padahal jika bertumpu pada usiamu, harusnya engkau masih ditopang, diarahkan. Akan tetapi, ke-terbalik-an yang kulihat. Justru di usia yang sebegitu dini, engkau telah mendewasakan diri. Aku salut! Ajarkan aku untuk terus bergerak, berbuat, berbagi dan menginspirasi tanpa henti. Ajarkan aku untuk terus ikhlas, menghadirkan empati yang tiada tepi. Barakallah SM-3T Keenam tahun. Pertambahan usia ini adalah amanah. Sebab dengan bertambahnya usia ini, berarti Allah memberimu kesempatan untuk berbuat lebih banyak untuk orang banyak. Amanah untuk menjadi bagian dari pemerataan sudut-sudut negeri yang belum merata. Semoga pikiran ini, kaki ini, tangan ini, dan seluruh yang telah Allah berikan menjadi bagian yang turut membersamaimu berjuang ke sudut sana. InsyaAllah wa biidznillah.

Salam Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia

Pekanbaru, 05 September 2017
Wa ila rabbika farghob
Keep tawadhu

Juniar Sinaga
SM-3T Angkatan III









Papan tulis pandemi?

Saya lupa tahun berapa persisnya menempa papan tulis kecil ini. Namun yang jelas papan tulis kecil ini dibuat dengan jalan pikiran agar pas ...